harapanrakyat.com,- Indonesia sedang bersiap menghadapi fenomena alam yang mengkhawatirkan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi mengeluarkan peringatan ancaman kekeringan ekstrem hingga Oktober 2026. Hal ini terkait kemunculan El Nino dengan intensitas kuat yang diprediksi akan menyelimuti wilayah nusantara.
BMKG menyebut ini bukan sekadar kemarau rutin tahunan, melainkan anomali cuaca ekstrem berskala besar yang dapat memicu kekeringan panjang. Serta penurunan curah hujan yang signifikan.
Puncak Musim Kemarau: Kekeringan Ekstrem dan Wilayah Terdampak
Baca Juga: Jawa Barat Siaga Hadapi El Nino Godzilla dan Krisis Sampah, KDM Gandeng TNI-BMKG
Data terbaru menunjukkan bahwa hingga pertengahan Juni 2026, sekitar 40 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Di mana separuh dari total wilayah tersebut melaporkan curah hujan yang berada di bawah level normal.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengungkapkan bahwa tantangan akan semakin berat pada semester kedua tahun ini.
Ia memproyeksikan ancaman kekeringan ekstrem antara Juli hingga Oktober 2026, lebih dari 80 persen wilayah Indonesia akan mengalami defisit air hujan yang drastis.
“Puncak dari musim kemarau ini diperkirakan terjadi pada rentang bulan Juli hingga September,” jelas Ardhasena dalam keterangan resminya, Jumat (3/7/2026).
Baca Juga: Waspada! Bibit Siklon Tropis 92W Mengancam, BMKG Minta Masyarakat Siaga
Dampak Serius pada Sektor Pertanian dan Pasokan Air
Intensitas El Nino yang menguat berisiko memicu kekeringan hidrologis, yang secara langsung mengancam ketersediaan air bersih bagi masyarakat. Namun, salah satu sektor yang paling terancam adalah ketahanan pangan nasional.
Sektor pertanian kini berada dalam posisi rentan terhadap risiko gagal panen massal. Untuk meminimalkan kerugian, BMKG memberikan beberapa rekomendasi strategis bagi para petani.
Rekomendasi tersebut di antaranya penyesuaian jadwal tanam untuk menghindari puncak kekeringan, penggunaan varietas tanaman tahan kering dan yang memiliki masa panen singkat (umur genjah). Serta melakukan diversifikasi tanaman pangan guna mengurangi ketergantungan pada satu jenis komoditas yang boros air.
Selain sektor agraria, masyarakat luas juga diimbau untuk lebih bijak dalam menghemat penggunaan air bersih. Kondisi kekeringan ekstrem ini juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Terutama di wilayah-wilayah yang secara historis rawan api.
BMKG berkomitmen untuk terus memantau dinamika iklim global secara real-time. Masyarakat dapat memantau pembaruan data setiap 10 hari melalui kanal komunikasi resmi pemerintah untuk mendapatkan panduan mitigasi yang paling akurat dan terkini. (R3/HR-Online/Editor: Eva)

3 hours ago
6

















































