Sejarah dan Makna Mendalam dari Tari Gandrung Banyuwangi

9 hours ago 11

Tari gandrung Banyuwangi merupakan seni pertunjukan yang menjadi simbol budaya sekaligus identitas bagi masyarakat setempat. Tarian ini menjadi salah satu kesenian tradisional yang populer dan sukses mencuri perhatian banyak masyarakat. Kesenian ini pun bukan hanya tarian biasa, namun memiliki sejarah dan makna mendalam.

Baca Juga: Sejarah Tari Keurseus, Kesenian Sunda Klasik dari Tradisi Tayuban

Mengenal Kesenian Tari Gandrung Banyuwangi

Tari gandrung tentunya tidak asing lagi bagi masyarakat Jawa Timur maupun berbagai wilayah lainnya. Tarian ini merupakan kesenian tradisional yang menjadi warisan budaya khas dari Banyuwangi, Jawa Timur. Bahkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia telah menetapkan kesenian ini sebagai Warisan Budaya Takbenda pada tahun 2013.

Tari gandrung dimainkan oleh perempuan maupun laki-laki, namun kini perempuanlah yang menjadi penari utama. Gerakannya didominasi dengan langkah yang lincah, gerakan tangan anggun, dan putaran tubuh harmonis. Kombinasi gerakan tubuh tersebut menciptakan keindahan visual yang memukau siapa saja saat melihatnya.

Tarian ini juga diiringi dengan musik khas menggunakan alat musik tradisional Banyuwangi berupa gamelan. Alunan musiknya pun sangat bervariasi, mulai dari ritme yang pelan dan lembut hingga cepat. Selama pertunjukan juga sering menampilkan lagu pengiring seperti Kembang Menur dan Kembang Pepe.

Selama pertunjukan tari gandrung Banyuwangi juga terdapat interaksi langsung dengan penonton. Para penari biasanya akan mendekati penonton laki-laki untuk berpartisipasi dalam pertunjukan tarian. Penari juga sering menggunakan selendang yang menjadi simbol keramahan dan penghormatan.

Sejarah Tari Gandrung

Awalnya tari gandrung merupakan tarian tradisional Suku Osing yang bertujuan menunjukkan rasa syukur atas hasil panen. Rasa syukur tersebut ditujukan pada Dewi Sri yaitu dewi kesuburan yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Kata gandrung sendiri berarti cinta habis-habisan atau tergila-gila yang mencerminkan kekaguman pada Dewi Sri.

Dulu, hanya laki-laki yang membawakan tarian ini dan berdandan seperti perempuan dengan sebutan Gandrung Lanang. Kemudian sekitar abad ke-20, penari laki-laki mulai tergantikan oleh penari perempuan dengan sebutan Gandrung Putri. Hingga saat ini, penari perempuan yang lebih populer dan menjadi penari utama dalam kesenian tersebut.

Baca Juga: Kesenian Tradisional Genye Purwakarta, Seni Helaran Unik dari Sapu Lidi

Selama masa kolonial, masyarakat Banyuwangi bukan hanya mementaskan tari gandrung dalam acara panen saja, namun juga untuk berbagai perayaan. Tarian ini pun semakin berkembang di kalangan umum dan masyarakat mulai memadukannya dengan alat musik khas. Di era modern, kesenian ini pun menjadi bagian dalam berbagai acara budaya di Banyuwangi.

Maknanya yang Dalam

Tari gandrung yang memukau dengan gerakan lincah dan dinamis bukan semata menjadi hiburan saja. Kesenian ini menunjukkan rasa cinta masyarakat Banyuwangi kepada Dewi Sri yang merupakan dewi kesuburan. Selain itu, kesenian ini juga melambangkan doa dan penghormatan kepada alam serta leluhur.

Gerakan-gerakan tubuh penari selama membawakan tarian ini juga memiliki pesan dan makna tersendiri. Misalnya gerakan tangan yang lembut menunjukkan rasa syukur sekaligus penghormatan. Kemudian gerakan langkah kaki yang dinamis menunjukkan keteguhan hari serta kerja keras.

Selain gerakan tubuh, kostum tari gandrung Banyuwangi juga memiliki makna simbolisme tersendiri. Misalnya warna dan motif kain pakaian menunjukkan identitas lokal maupun unsur penting dalam kehidupan manusia. Kemudian penggunaan atribut mahkota menjadi simbol semangat hidup, kesucian, dan juga kewibawaan.

Pelestariannya di Era Modern

Dalam upaya pelestariannya, masyarakat terus menghadirkan tari gandrung dalam berbagai event kebudayaan lokal maupun nasional. Contohnya event Festival Gandrung Sewu yang melibatkan penari gandrung dari kalangan pelajar dan generasi muda. Festival ini terlaksana setiap tahun dan mengundang ratusan penari untuk menari di Pantai Boom.

Masyarakat juga sering mementaskan kesenian ini dalam berbagai acara lain seperti pernikahan hingga berbagai perayaan besar. Event tersebut membantu memastikan tari gandrung terus lestari sekaligus menjadi daya tarik wisata kebudayaan. Dengan berbagai upaya tersebut, kesenian ini tidak akan terlupakan meskipun zaman terus berkembang.

Baca Juga: Kesenian Lebon dan Tradisi Nampaling Asal Pangandaran Jadi Warisan Budaya Tak Benda

Tari gandrung Banyuwangi telah menjadi simbol budaya lokal dan ciri khas dari wilayah di Jawa Timur. Tarian ini pun bukan hanya untuk hiburan saja, namun juga memiliki makna mendalam. Kesenian ini sudah sangat populer, bahkan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Karena itu, tidak heran jika banyak orang penasaran dan ingin melihat langsung pertunjukan tari gandrung di Banyuwangi. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |