Upacara Tiwah Suku Dayak, Tradisi Mengantar Arwah ke Lweu Tatau

3 hours ago 2

Upacara tiwah suku Dayak merupakan tradisi dan budaya di Kalimantan Tengah yang masih terus bertahan hingga kini. Tradisi ini dilakukan oleh suku adat Dayak Ngaju dan sub-sub suku Dayak lainnya di Kalimantan Tengah. Tiwah sendiri merupakan tradisi kematian suku Dayak yang telah resmi menjadi warisan budaya tak benda.

Baca Juga: Menelusuri Aci Sanghyang Grodog: Ritual Sakral Penjaga Harmoni dan Identitas Nusa Lembongan

Mengenal Apa Itu Upacara Tiwah Suku Dayak

Tiwah atau atau Magah Salumpuk Liau Uluh Materi adalah upacara kematian dalam kepercayaan Kaharingan. Tujuannya mengantarkan arwah orang yang sudah meninggal menuju Lewu Tatau yaitu surga atau tempat keabadian. Upacara ini merupakan tradisi suku adat Dayak Ngaju dan sub-sub suku Dayak lainnya yang ada di Kalimantan Tengah.

Bagi masyarakat Dayak, kematian bukanlah akhir namun menjadi fase transisi menuju ke alam roh. Mereka juga menganggap bahwa roh orang yang sudah meninggal belum benar-benar tenang sebelum melalui Tiwah. Jika tidak melakukan Tiwah, masyarakat juga percaya bahwa arwah bisa mengganggu keluarga yang masih hidup.

Sejarah dan Asal-Usul Tiwah

Upacara Tiwah suku Dayak berakar pada kepercayaan Kaharingan yaitu agama suku Dayak sebelum masuknya Kristen, Islam, Hindu, dan Budha. Tradisi yang menjadi upacara kematian tingkat akhir ini sudah ada sejak masa lampau dan berlangsung turun temurun. Kata Tiwah sendiri berasal dari Bahasa Sangiang yang artinya penyucian dan pembebasan roh dari ikatan duniawi.

Baca Juga: Festival Metri Bumi Merapi, Tradisi Syukur dan Strategi Mitigasi Budaya Masyarakat Lereng

Nenek moyang para penganut Kaharingan ini melakukan Tiwah bagi keluarga meninggal agar mencapai kesempurnaan di Lewu Tatau. Dulu masyarakat suku Dayak melakukan tradisi ini secara mandiri untuk keluarga masing-masing. Kini, masyarakat sering melakukan tradisi ini secara massal dengan beberapa keluarga sekaligus dan mendapat dukungan pemerintah.

Tujuan dan Maknanya

Tradisi ini memiliki tujuan utama untuk mengantar arwah menuju tempat asal yang damai yaitu Lewu Tatau. Selain itu juga untuk melepaskan anggota keluarga yang masih hidup dari ikatan duka karena kehilangan. Tujuan lainnya juga untuk membuang sial atau pengaruh buruk bagi keluarga yang masih hidup.

Upacara Tiwah suku Dayak memiliki makna tersendiri seperti mempererat kebersamaan dan kerukunan antar warga desa. Kemudian mampu memberikan ketenangan batin dan rasa lega bagi keluarga yang masih hidup. Selain itu tradisi ini juga bisa menjaga warisan leluhur agar identitas Dayak tetap hidup.

Tata Cara Upacara

Upacara Tiwah memiliki serangkaian acara atau prosesi tertentu yang berlangsung selama beberapa hari. Tata cara pertama yaitu dengan memutuskan jadwal dan menentukan tiwah untuk berapa orang atau arwah. Kemudian mendirikan sebuah balai pangun jandau yaitu balai sementara guna prosesi serta pemasangan sangkaraya.

Masyarakat juga menyiapkan sapundu atau tiang pengikat hewan kurban dari kayu ulin dan berbagai alat ritual lainnya. Proses selanjutnya yaitu memanggil roh dan mengorbankan hewan berupa ayam, babi, kerbau atau sapi. Masyarakat akan membagi dan mengonsumsi sebagian daging hewan dan sebagian lainnya untuk sesaji.

Proses upacara Tiwah suku Dayak selanjutnya masyarakat akan mengambil tulang jenazah, membersihkannya, dan membawanya ke balai tiwah. Kemudian masyarakat dan keluarga akan memanjatkan doa untuk arwah agar diterima di Lewu Tatau. Setelah itu masyarakat membawa tulang ke sandung atau rumah tulang dan melakukan penutupan upacara.

Pantangan Atau Pali

Selama menjalankan upacara ini, masyarakat harus mematuhi pantangan atau pali dan bisa mendapat denda jika melanggarnya. Pantangannya yaitu masyarakat tidak boleh membawa sayuran seperti rebung, jamur, jantung pisang, umbut rotan, dan pakis. Tidak boleh membawa ikan yang tidak bersisik dan tidak boleh membunuh hewan liar seperti rusa, babi hutan, dan lainnya.

Selain itu, terdapat pantangan yang terkait dengan sikap dan perilaku masyarakat selama upacara berlangsung. Masyarakat harus bisa menjaga emosi dan tidak boleh bertengkar atau berkelahi dengan keluarga maupun tamu. Kemudian tidak boleh melakukan perbuatan tercela dan mengganggu makhluk hidup yang masuk ke area ritual.

Baca Juga: Ulin Taman Jingga Tasikmalaya, Solusi Atasi Anak Kecanduan Gawai Lewat Permainan Tradisional

Upacara Tiwah suku Dayak telah menjadi bagian penting sekaligus tradisi khas di Kalimantan Tengah. Masyarakat Dayak sendiri melakukan Tiwah setelah 7-10 tahun setelah anggota keluarga meninggal agar tersisa tulang belulang. Waktu pelaksanaannya biasanya setelah musim panen padi ketika masyarakat memiliki waktu dan persediaan makanan. Upacara Tiwah sekarang menjadi daya tarik budaya dari suku Dayak yang harus terus dilestarikan. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |