Penemuan fosil kayu 300 juta tahun tidak kalah berharganya dari fosil tulang spesies hewan purba. Hal ini karena fosil kayu tersebut mampu membantu ilmuwan untuk memahami bagaimana sejarah prasejarah planet Bumi. Fosil ini sendiri asalnya dari pegunungan Kyffhauser yang ada di Cekungan Saale di Jerman Utara.
Baca Juga: Penemuan Fosil Musango matusadonaensis, Spesies Dinosaurus Baru di Zimbabwe
Saat menemukannya, ilmuwan sangat antusias dalam meneliti fosil tersebut. Tak heran sebab di balik ukurannya yang kecil, ternyata fosil tersebut merangkum sejarah geologi semua wilayah hingga ratusan juta tahun lamanya. Berikut uraian selengkapnya.
Fosil Kayu 300 Juta Tahun Ditemukan
Menurut penjelasan Dr. Steffen Trumper yang berasal dari Universitas Munster Jerman, fosil kayu ini memiliki ukuran tak lebih besar daripada telapak tangan. Kendati demikian, bukan berarti temuan fosil tersebut tidak berarti. Meskipun ukurannya kecil, namun fosil ini memiliki sejarah geologi tersendiri.
Pada dasarnya, di antara seluruh jaringan organik yang keras, kayu ternyata mempunyai afinitas kimia terkuat untuk termineralisasi. Transformasi kayu tersebut melewati empat proses kuarsa. Prosesnya menggunakan tekanan maupun suhu berbeda.
Berasal dari Pepohonan Berukuran Raksasa
Dalam penemuan fosil kayu berumur 300 juta tahun ini, ilmuwan menemukan fakta mengejutkan. Dari hasil penelitian, ternyata ilmuwan mendapati bahwa kayu tersebut asalnya dari pepohonan yang ukurannya raksasa. Pohon tersebut ada di hutan yang tumbuh subur namun sebelum era dinosaurus. Lebih tepatnya, kayunya ada di Zaman Karbon.
Baca Juga: Peneliti Temukan Jejak Kumbang Pemakan Bangkai pada Fosil Titanosaurus
Saat menelitinya, ilmuwan juga bisa mengetahui bahwa pepohonan ini terkubur tepat di dasar sungai purba yang ada dalam kawasan tropis benua Super Pangaea. Saat itu kawasan tersebut seringkali mengalami pergantian musim. Sebut saja musim kering dan penghujan sampai berujung banjir.
Usai terkubur, kayunya mengalami empat proses mineralisasi. Tahapan tersebut berlangsung selama jutaan tahun berikutnya. Kemudian masing-masing membentuk kuarsa yang berbeda-beda. Dari proses tersebut juga bisa mengungkap informasi penting mengenai cekungan yang jadi tempat tumbuh pohonnya.
Analisa Terkait Beragam Bentuk Kuarsa
Masih seputar penemuan fosil kayu berusia 300 juta tahun ini, tim peneliti menganalisa usia kristal untuk bisa menciptakan garis waktu transformasinya. Analisa tersebut melibatkan beragam bentuk kuarsa yang tersisa. Salah satunya ialah kuarsa hematit yang terbentuk antara 257 juta sampai 260 juta tahun lalu.
Lalu juga kuasa euhedral yang terbentuk sekitar 180 juta sampai 150 juta tahun lalu. Ada juga kuarsa barit yang proses terbentuknya berkisar 100 juta tahun lalu. Tiap proses tersebut memerlukan tekanan maupun suhu tertentu.
Proses pembentukannya juga dipengaruhi oleh sejumlah hal. Adapun salah satunya ialah seberapa dalam kayunya di tanah saat prosesnya berlangsung. Hal tersebut tentunya juga mengukir sejarah tersendiri.
Garis Evolusi Tumbuhan
Dalam rentang 304 juta sampai 299 juta tahun lalu, asam silikat bisa meresap ke kayu yang sudah terkubur. Proses ini bisa membentuk opal yang mampu mempertahankan bagaimana bentuk dinding sel kayunya. Selanjutnya pada rentang 299 juta sampai 290 juta tahun yang lalu, fosilnya terkubur jauh lebih dalam tepat di bawah lapisan sedimen.
Proses tersebut memungkinkan fosil kayu berusia 300 juta tahun ini mengalami pemanasan sampai 50-70 derajat Celcius. Karena proses pemanasan ini, kayunya tidak lagi beropal. Akan tetapi, kayu tersebut sudah jadi kristal kuarsa halus.
Proses ini memang mampu melestarikan bagaimana rekaman garis evolusi dari tumbuhan yang saat ini sudah punah. Rekaman tersebut bisa jadi pertimbangan ketika membandingkannya dengan kerabat terdekat yang masih hidup. Tidak lain ialah tumbuhan konifer.
Lebih lanjut, dalam garis evolusi tumbuhan ini, kristal kuarsa halus tadi lantas tergantikan oleh jenis kristal kuarsa hematit. Kemudian bisa membentuk kuarsa kristal euhedral yang bentuknya blok usai periode stagnan berkepanjangan. Terakhir, transformasinya menciptakan kuarsa barit yang terkenal dengan pancaran cahaya biru ketika pembobardiran elektron atau istilahnya katodoluminesensi.
Baca Juga: Penemuan Bersejarah Fosil Ular Zaman Kapur dengan Kualitas Tiga Dimensi
Penemuan fosil kayu 300 juta tahun tidak kalah mengesankan dari fosil spesies hewan purba. Karena hal itu, ilmuwan tampak semangat dalam menelitinya. Terkait penemuan tersebut, tentu masih membutuhkan penelitian secara lebih mendalam lagi untuk ungkap informasi menarik lain seputar fosil kayu berusia 300 juta tahun ini. Hal yang pasti, sejarah geologi Bumi turut terkuak lewat temuan fosil tumbuhan tersebut. (R10/HR-Online)

3 hours ago
2

















































