Perjanjian Roem Royen merupakan perundingan damai antara Indonesia dan Belanda pada 7 Mei 1949 di Jakarta. Perundingan ini menjadi bagian sejarah Indonesia yang penting dan membuka jalan akhir perselisihan dengan Belanda. Berikut akan kita bahas lebih lanjut tentang latar belakangnya, tokoh yang terlibat, hingga isi perundingan.
Baca Juga: Menelusuri Jejak Sejarah dan Filosofi Mendalam di Balik Lomba Balap Karung 17 Agustus
Mengenal Latar Belakang Hingga Isi Perjanjian Roem Royen
Setelah proklamasi kemerdekaan pada tahun 1945, urusan antara Indonesia dan Belanda memang belum benar-benar usai. Karena itu antara kedua negara mengadakan beberapa kali perjanjian atau perundingan. Nah, perundingan Roem Royen merupakan salah satu dari beberapa perundingan yang pernah dilakukan Indonesia dan Belanda.
Perundingan Roem Royen ini menjadi perundingan yang memakan waktu cukup lama untuk mencapai kesepakatan. Proses perundingan ini mulai sejak tanggal 14 April 1949 dan baru mendapat kesepakatan pada 7 Mei 1949. Pelaksanaannya berada di Hotel Des Indes Jakarta yang kini beralih fungsi menjadi kompleks Duta Merlin, Jalan Gajah Mada.
Latar Belakang Perundingan
Latar belakang terjadinya perjanjian Roem Royen yaitu karena Belanda belum mau mengakui kemerdekaan Indonesia. Awalnya Belanda dan Indonesia telah menandatangani Perjanjian Linggarjati pada 10-15 November 1946 dan disahkan pada 25 Maret 1947. Namun Belanda kemudian melanggar perjanjian dengan melakukan Agresi Militer I pada 21 Juli 1947.
Pihak PBB kemudian membentuk Komisi Tiga Negara (Australia, Belgia, dan Amerika Serikat) untuk menuntaskan masalah tersebut. Kemudian antara Belanda dan Indonesia kembali melakukan perundingan yaitu Perjanjian Renville pada 8 Desember 1947. Namun pada 18 Desember 1948, Belanda kembali melakukan Agresi Militer II dengan menyerang Yogyakarta.
Baca Juga: Sejarah Benteng Duurstede Maluku, Peninggalan Belanda Saksi Perjuangan Rakyat Saparua
Untuk melawan perbuatan Belanda, Indonesia kemudian melancarkan Serangan Umum pada 1 Maret 1949. Serangan yang bertujuan merebut kembali Yogyakarta tersebut sangat merugikan Belanda di mata politik internasional. PBB dan banyak negara lainnya pun sangat mengecam aksi Belanda yang mengingkari perjanjian dengan Indonesia.
Karena mendapat kecaman, mau tidak mau Belanda kemudian harus mengadakan perjanjian lagi dengan Indonesia. Karena itu lahirnya Perjanjian Roem Royen yang berlangsung pada 17 April 1949 hingga 7 Mei 1949. Setelah itu, Indonesia dan Belanda kembali melanjutkan perundingan di Den Haag yaitu Konferensi Meja Bundar.
Tokoh yang Terlibat
Perundingan Roem Royen yang diprakarsai oleh komisi PBB untuk Indonesia ini melibatkan cukup banyak tokoh. Indonesia sendiri mengirim Mohammad Roem sebagai pemimpin. Sedangkan Belanda mengirim Dr. J. Herman van Roijen atau Royen. Karena itulah nama perundingan ini kemudian menjadi perundingan Roem Royen dari kedua utusan.
Selain kedua pemimpin delegasi tersebut, masing-masing negara juga melibatkan beberapa tokoh penting. Misalnya dari Indonesia ada Moh Hatta, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Ali Sastroamidjojo, dan lainnya. Dari Belanda ada Dr. P. J. Koets, Blom. Dr. Gieben, Van Hoogstraten dan lainnya.
Isi Perjanjian
Perundingan ini menghasilkan beberapa isi dari pihak Belanda maupun dari pihak Indonesia. Berikut isi perjanjian Roem Royen menurut delegasi Indonesia:
- Indonesia menyatakan akan memerintahkan pasukan dan angkatan bersenjata menghentikan segala bentuk aktivitas perang gerilya.
- Pemerintah Indonesia dan Belanda akan menjamin kerjasama untuk mengembalikan perdamaian, ketertiban, dan keamanan masing-masing negara.
- Indonesia akan turut serta dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag guna mempercepat penyerahan kedaulatan.
Dari sisi Belanda isi perundingannya seperti berikut:
- Belanda menyetujui untuk mengembalikan pemerintahan RI ke Yogyakarta yang sebelumnya mereka kuasai saat Agresi Militer II.
- Berkomitmen untuk membebaskan semua tahanan perang maupun tahanan politik yang tertangkap saat agresi militer tanpa syarat.
- Belanda mengakui keberadaan Republik Indonesia sebagai bagian dari Negara Indonesia Serikat.
- Berusaha agar Konferensi Meja Bundar bisa segera terlaksana setelah pemerintahan Republik kembali lagi ke Yogyakarta.
- Belanda tidak akan mendirikan atau mengakui negara di daerah yang dikuasai oleh RI sebelum 19 Desember 195.
Baca Juga: Sejarah Preanger Stelsel dan Peran Priangan dalam Industri Kopi Dunia
Perjanjian Roem Royen menjadi akhir dari konflik bersenjata antara Indonesia dan Belanda setelah proklamasi kemerdekaan. Perjanjian ini pun menjadi yang ketiga bersama Belanda setelah Perjanjian Linggarjati dan Perjanjian Renville. Perundingan ini mengembalikan pemerintahan RI ke Yogyakarta hingga membuka jalan menuju Konferensi Meja Bundar. Karena itu, Perjanjian Roem Royen ini membawa perubahan dan dampak yang sangat besar bagi bangsa Indonesia. (R10/HR-Online)

7 hours ago
6

















































