Kisah Abu Mahdzurah, Pernah Menistakan Adzan hingga Jadi Muadzin Era Rasulullah

9 hours ago 8

Kisah Abu Mahdzurah menjadi salah satu catatan yang cukup menarik dalam sejarah Islam. Abu Mahdzurah punya kisah yang berkaitan erat dengan turunnya hidayah Allah SWT kepada kaum kafir Quraisy. Terutama pada masa-masa awal perkembangan Islam saat kaum kafir Quraisy terus menunjukkan permusuhan terhadap dakwah Rasulullah.

Baca Juga: Kisah Aidz bin Amr, Sosok Sahabat Nabi yang Berani Hadapi Penguasa Keji

Berbagai bentuk penolakan muncul mulai dari menghina Muhammad, menyiksa kaum Muslim, hingga mengejek syiar-syiar Islam seperti adzan. Dalam situasi seperti itulah kisah Mahdzurah bermula. Sosok yang pada awalnya mengejek syiar Islam justru berubah menjadi salah satu muadzin paling terkenal di era Nabi.

Kisah Abu Mahdzurah yang Inspiratif

Abu Mahdzurah adalah seorang pemuda Mekkah yang hidup pada masa Rasulullah. Ketika itu, ia belum memeluk Islam. Sosoknya masih berada di lingkungan masyarakat yang banyak memandang sinis terhadap ajaran Nabi Muhammad. Usianya masih sekitar 16 tahun, namun kisah hidupnya kelak menjadi cerita paling dikenang dalam sejarah.

Peristiwa yang mengubah hidup Abu Mahdzurah terjadi setelah Perang Hunain. Saat itu Rasulullah bersama para sahabatnya sedang beristirahat sejenak. Ketika waktu salat Dzuhur tiba, ia memerintahkan Bilal bin Abi Rabah untuk mengumandangkan adzan. Sejak era Perang Hunain, adzan sudah ada sebagai tanda masuknya waktu salat.

Berkat kelantangannya, suara adzan dari Bilal bin Abi Rabah pun terdengar sampai jauh hingga ke daerah perbukitan. Tempat dimana Abu Mahdzurah dan beberapa temannya sedang menggembalakan kambing peliharaan. Dari sinilah kisah perubahan besar dalam hidup Abu Mahdzurah bermula.

Awal Mula Mengolok Adzan Bilal

Mendengar lantunan adzan yang Bilal kumandangkan, Abu Mahdzurah justru menirukan bacaannya dengan nada mengejek. Bersama teman-temannya, ia melafalkan adzan sebagai bentuk olok-olok terhadap syiar Islam. Tindakan tersebut merupakan cerminan sikap sebagian kaum kafir Quraisy pada masa itu yang masih memandang rendah ajaran Islam.

Suara ejekan Abu Mahdzurah ternyata terdengar sampai ke telinga Rasulullah dan para sahabat. Nabi kemudian meminta agar orang yang menirukan adzan tersebut menghadapnya. Para penggembala yang ketakutan akhirnya datang memenuhi panggilan Rasulullah. Mereka mulai mencemaskan hukuman yang mungkin Rasulullah berikan.

Maka ketika Nabi bertanya siapa yang tadi mengucapkan adzan dengan suara lantang, teman-teman Abu Mahdzurah menunjuk kepadanya. Abu Mahdzurah pun tidak dapat mengelak. Mau tidak mau ia mengakui bahwa dirinya-lah yang tadi telah menirukan adzan Bilal bin Rabah dengan nada ejekan.

Rasulullah Mendatanginya dengan Kelembutan

Dalam catatan kisah ini, Abu Mahdzurah sebelumnya mengira dirinya akan kena marah atau bahkan hukuman akibat menghina adzan. Namun, yang terjadi justru di luar dugaan. Rasulullah tidak membalas dengan kemarahan ataupun kekerasan. Nabi Muhammad justru mendekati Abu Mahdzurah dan memintanya mengulang kembali bacaan adzan yang sebelumnya ia ejek.

Baca Juga: Kisah Jabir bin Abdullah, Anak Syuhada Uhud dan Sahabat Karib Rasulullah

Setelah mendengar suaranya, Rasulullah melihat bahwa pemuda itu memiliki suara yang sangat indah dan lantang. Nabi kemudian mengajarkan lafal adzan secara benar kepada Abu Mahdzurah. Tidak hanya itu, ia turut mendoakannya agar Allah memberikan hidayah serta memberkahi dirinya beserta teman-temannya.

Dalam sejumlah riwayat tertulis Rasulullah mengusap kepala dan dada Abu Mahdzurah sambil mendoakannya. Sentuhan penuh kasih sayang dan doa dari Rasulullah membuat hati Abu Mahdzurah berubah. Kebencian yang sebelumnya memenuhi hatinya berganti menjadi rasa cinta kepada ajarannya. Sejak saat itu ia memeluk Islam dengan penuh keikhlasan.

Menjadi Muadzin Hingga Akhir Hayat

Pasca masuk Islam, Abu Mahdzurah mendapatkan kehormatan besar dari Rasulullah. Nabi Muhammad SAW terus mengajarkan adzan secara langsung kepadanya. Bahkan mempercayainya menjadi muadzin di Kota Mekah. Sejak saat itu, Abu Mahdzurah populer sebagai muadzin Masjidil Haram.

Ia rutin mengumandangkan adzan dengan suara merdu hingga akhir hayatnya. Amanah tersebut ia jalankan dengan penuh keikhlasan sebagai bentuk pengabdian kepada Allah dan Rasul-Nya. Sejumlah riwayat juga menyebutkan bahwa keturunan Abu Mahdzurah melanjutkan tugas sebagai muadzin di Masjidil Haram selama bertahun-tahun. Bahkan ada pendapat yang menyatakan tradisi tersebut berlangsung hingga masa Imam asy-Syafi’i.

Baca Juga: Kisah Sa’ad bin Abi Waqqash, Sahabat Nabi yang Berdakwah di China 

Kisah Abu Mahdzurah mengajarkan bahwa masa lalu seseorang tidak selalu menentukan masa depannya. Pemuda yang pernah mengolok adzan justru mendapatkan hidayah, belajar langsung dari Rasulullah, lalu menjadi muadzin Masjidil Haram. Kisah Abu Mahdzurah juga memperlihatkan kelembutan akhlak Nabi Muhammad dalam berdakwah. Dengan kesabaran, doa dan kasih sayang, sosoknya mampu melancarkan perjuangan menegakkan syiar agama. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |