Kalangan ilmuwan tengah menaruh perhatian penuh pada gunung api bawah laut yang ada di sebelah utara Papua Nugini. Lebih tepatnya di Laut Bismarck. Hal ini karena gunung api tersebut tengah melakukan serangkaian aktivitas vulkanik sejak awal bulan Mei 2026.
Baca Juga: Pesona Strawberry Moon 2026 yang Bakal Menghiasi Langit Malam
Karena aktivitas vulkanik tersebut, kalangan ilmuwan berpendapat bahwa akan ada pulau baru yang lahir di permukaan bumi. Oleh karena itu, ilmuwan melakukan pemantauan secara ketat. Terlebih lagi, hal tersebut termasuk fenomena langka.
Gunung Api Bawah Laut Berpotensi Ciptakan Pulau Baru
Kalangan ilmuwan memanfaatkan teknologi canggih untuk bisa memantau aktivitas vulkanik gunung bawah laut ini. Adapun teknologi tersebut ialah satelit Aqua serta Terra yang tidak lain milik NASA. Melalui pemanfaatan teknologi dari luar angkasa ini, ilmuwan bisa tahu bagaimana semburan uap maupun perubahan warna air lautnya.
Bukan hanya itu, ilmuwan juga bisa memantau adanya hamparan batu apung vulkanik tepat di sekitar lokasi. Hamparan batu apung vulkanik ini sendiri terkenal dengan sebutan pumice rafts. Ternyata kejadian ini tak langsung terjadi begitu saja, melainkan ada sejumlah tahapan.
Tahapan Aktivitas Vulkanik
Sebelum mendeteksi adanya aktivitas vulkanik ini, ternyata ada tahapan awal yang terjadi. Gejala awal tersebut terlihat pada tanggal 8 Mei 2026. Saat itu sensor seismik berhasil menangkap adanya rentetan gempa bumi kecil di bagian dasar laut.
Setelah itu, citra satelit memperlihatkan adanya tanda aktivitas vulkanik gunung api tepat di area bawah laut. Hal ini cukup mengejutkan karena sebelumnya belum pernah terpetakan secara mendetail. Dasar laut pun secara bertahap mengeluarkan material vulkanik.
Baca Juga: Pesona Keindahan Fenomena Blue Micromoon di Langit Malam 31 Mei 2026
Hal ini berlangsung secara terus-menerus hingga material vulkaniknya menumpuk menuju permukaan. Lalu endapan lava maupun abu vulkaniknya bisa muncul sampai ke atas permukaan air. Apabila proses ini masih berlanjut, maka berpotensi untuk menciptakan pulau baru.
Akan tetapi, kalangan ilmuwan belum bisa memastikan sepenuhnya apakah pulau ini akan bertahan lama atau hilang nantinya akibat terkikis gelombang laut. Karena hal itu, tim peneliti masih terus mengamatinya dengan seksama. Untuk memastikan hal tersebut, memang tidak bisa langsung dilakukan begitu saja.
Kecanggihan Teknologi Pengamatan
Untuk memantau aktivitas vulkanik ini, kalangan ilmuwan memang memanfaatkan teknologi canggih yang tak lain adalah satelit luar angkasa tadi. Untuk mekanisme kerjanya, satelit merekam adanya kolom uap yang tampak menjulang sampai beberapa km ke atmosfer. Lalu juga mendeteksi adanya perubahan warna air karena abu maupun mineral vulkanik.
Lava yang memiliki gas cepat mendingin lantas menghasilkan batu dengan pori ringan atau terkenal sebagai batu apung. Material gunung api bawah laut ini lantas mengapung serta hanyut ikut arus yang ada di permukaan. Hal ini berlangsung selama berminggu-minggu sampai berbulan-bulan.
Melalui bantuan teknologi canggih satelit ini, tim peneliti memang akhirnya bisa analisa data dengan real time. Baik itu gempa awal sampai dengan potensi munculnya daratan baru. Mempelajari proses awal terbentuknya pulau vulkanik pun jadi terasa lebih mudah.
Fenomena Serupa
Momen langka soal aktivitas vulkanik gunung api bawah laut yang memicu terbentuknya pulau baru ini ternyata bukan kali pertama terjadi. Hal ini karena fenomena serupa juga pernah terjadi sebelumnya. Salah satu contohnya ialah Surtsey yang ada di Islandia.
Surtsey muncul karena gunung api bawah laut meletus pada tahun 1963. Surtsey pun masih bertahan sampai sekarang. Hal ini berbeda dengan kebanyakan pulau vulkanik lainnya.
Tak sedikit pulau vulkanik lainnya yang hanya bisa bertahan dalam kurun waktu beberapa bulan saja. Bahkan ada juga pulau yang hilang dalam hitungan tahun akibat terkikis ombak. Hal ini turut menyadarkan kalangan ilmuwan bahwa keberadaan pulau baru tersebut bisa saja hanya bersifat sementara.
Baca Juga: Penyusutan Danau Purba di Tibet, Diduga Picu Gempa
Gunung api bawah laut yang ada di sebelah Papua Nugini memang jadi sorotan kalangan ilmuwan. Hal ini karena aktivitas vulkanik gunung tersebut kemungkinan besar berpotensi menciptakan pulau baru. Namun untuk memastikan apakah pulaunya permanen atau hanya sementara, masih membutuhkan penelitian secara lebih mendalam. Terlebih lagi momen satu ini termasuk fenomena langka yang masih membutuhkan pemantauan secara terperinci. (R10/HR-Online)

4 hours ago
5

















































