harapanrakyat.com,- Aroma kaldu ayam kampung mulai menguar sejak pagi dari warung Soto Khidmat di Jalan Koperasi, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Senin (18/5/2026). Di balik kepulan uap kuah soto, tampak dua pria beda generasi berbagi tugas melayani pelanggan yang datang silih berganti.
Mereka adalah Agus Nurjaman (61) dan putra sulungnya, Hasnul Alam (27), pasangan bapak-anak yang kini mengelola Soto Ayam Kampung Khidmat, warung soto yang berada di kawasan perkantoran pemerintahan.
Bagi penikmat kuliner lawas Ciamis, cita rasa soto di warung ini terasa tidak asing. Agus ternyata pernah menjadi orang kepercayaan di Soto Mang Epeng, kuliner legendaris yang cukup dikenal warga Ciamis.
Hasnul menceritakan, ayahnya sempat kembali membuka cabang Soto Mang Epeng di kawasan Jalan Permata Bunda dekat pom bensin pada 2018 dengan nama “Mang Epeng 2”. Namun setahun berselang, keluarganya memilih berpisah manajemen secara baik-baik dan mulai merintis usaha sendiri.
“Bapak ingin punya usaha mandiri. Akhirnya tahun 2019 pindah ke Jalan Koperasi dan mulai buka soto sendiri,” ujar Hasnul kepada harapanrakyat.com, Senin (18/05/2026).
Awalnya, warung tersebut beberapa kali berganti nama, mulai dari Soto Kampung hingga Soto Enak. Setelah menetap di Jalan Koperasi, mereka akhirnya mantap menggunakan nama Soto Khidmat.
“Sekarang lebih cocok pakai nama Khidmat, biar sekaligus jadi doa juga dalam pelayanan,” katanya.
Setiap hari, warung ini buka mulai pukul 07.30 WIB hingga 15.00 WIB. Jam sibuk biasanya terjadi saat pagi hari ketika ASN dan pegawai kantoran mulai berdatangan untuk sarapan. Gelombang pelanggan kembali ramai menjelang waktu makan siang.
Menggunakan ayam kampung asli sebagai bahan utama, soto dijual Rp20 ribu untuk porsi penuh dan Rp15 ribu untuk setengah porsi. Dalam sehari, sekitar satu hingga satu setengah ekor ayam kampung habis diolah menjadi puluhan mangkuk soto.
Soto Ayam Kampung Khidmat Ciamis dan Pembayaran Digital
Di tengah usaha tersebut, Hasnul membawa sentuhan digital ke warung milik keluarganya. Sejak 2025, ia mengajukan fasilitas pembayaran QRIS melalui BRI setelah banyak pelanggan meminta opsi pembayaran non-tunai.
“Sering ada yang tanya, ‘Aya QRIS? Bisa bayar QRIS?’ Jadi akhirnya saya daftar,” ujarnya sambil tersenyum.
Menurut Hasnul, penggunaan QRIS cukup membantu operasional usaha, terutama untuk mengatasi persoalan uang kembalian dan transaksi tunai.
“Lebih praktis. Kalau saldo QRIS sudah terkumpul Rp400 ribu sampai Rp500 ribu, bisa langsung dipakai lagi untuk modal usaha,” katanya.
Pelanggan yang Selalu Datang Kembali
Rasa otentik soto ayam kampung dan pembayaran yang mudah membuat para pelanggan Soto Khidmat selalu datang kembali. Hal ini diungkap Joehanes Liem (39) salah satu pelanggan Soto Khidmat.
“Dulu waktu kecil sering makan soto di Mang Epeng, sekarang rasa khas soto itu ada di sini, jadi ini yang bikin saya merasa terikat dengan Soto Khidmat,” katanya.
Pria yang tinggal di Jalan Ir H Juanda itu mengungkapkan, sejak pertama mencicipi Soto Khidmat, rasanya tidak berubah hingga saat ini. “Nggak ada yang berubah, semoga saja ya nggak berubah, saya kalau ke ini serasa mengenang kuliner masa kecil,” katanya.
Baca Juga: Liburan ke Sungai Cireong Ciamis Bayar Rp 5 Ribu, Pengunjung Otomatis Terlindungi Asuransi
Selain itu, kemudahan pembayaran juga membuatnya tidak was-was setiap kali makan di Soto Khidmat. “Ada kalanya kan dompet ketinggalan, gak masalah, asal jangan HP-nya yang ketinggalan, pembayaran kan bisa pakai QRIS, praktis,” katanya.
Manfaat QRIS BRI
Sementara itu, Manajer Bisnis Mikro BRI Branch Office Ciamis, Mochamad Heru Yudha, menyebut jumlah pengguna QRIS di Ciamis kini mencapai sekitar 23 ribu nasabah. Dari angka tersebut, sekitar 70 persen berasal dari pelaku UMKM.
Menurutnya,penggunaan QRIS memberi banyak manfaat bagi pelaku UMKM. “Dengan QRIS, transaksi jadi lebih mudah karena pelanggan bisa membayar menggunakan berbagai aplikasi mobile banking maupun e-wallet hanya dengan satu QR Code,” ujarnya.
Ia menambahkan, proses pembayaran juga menjadi lebih cepat dan praktis karena pelanggan cukup melakukan scan barcode tanpa perlu repot uang kembalian.
“Pelayanan jadi lebih efisien, pelaku usaha juga tidak direpotkan soal angsul atau uang receh,” katanya.
Menurut Heru, tren pembayaran digital saat ini turut membantu meningkatkan penjualan UMKM karena konsumen cenderung lebih nyaman menggunakan transaksi non-tunai.
“Sekarang masyarakat lebih suka pembayaran digital. Dengan QRIS, UMKM bisa menjangkau lebih banyak pelanggan,” tambahnya.
Selain itu, QRIS dinilai lebih aman karena dapat mengurangi risiko uang palsu, kehilangan uang tunai, hingga kesalahan perhitungan saat transaksi.
“Semua transaksi tercatat otomatis secara digital, jadi lebih membantu dalam pembukuan dan pengelolaan keuangan usaha,” jelasnya.
Ia menyebut penggunaan QRIS juga menjadi bagian dari proses digitalisasi UMKM. “QRIS juga membuat usaha terlihat lebih modern dan profesional di mata konsumen,” katanya.
Baca Juga: Dongkrak Ekonomi Lokal, BRI Ciamis Guyur KUR Mikro dan KPP Rp 242 Miliar untuk Ribuan Nasabah
Kolaborasi resep tradisional sang ayah dan sentuhan digital dari anak muda itu kini membuat Soto Ayam Kampung Khidmat tetap bertahan di tengah gempuran kuliner modern. Semangkuk soto ayam kampung tidak hanya menawarkan rasa lama yang akrab, tetapi juga wajah baru UMKM yang mulai beradaptasi dengan era pembayaran digital. (Fahmi/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

7 hours ago
12

















































