Mengungkap Misteri dan Sejarah Candi Bumiayu di Sumatera Selatan

5 hours ago 9

harapanrakyat.com,- Sejarah Candi Bumiayu sangat menarik untuk kita kaji sebagai salah satu bagian sejarah Indonesia yang bernilai. Situs purbakala ini berlokasi di Desa Bumiayu, Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, Provinsi Sumatera Selatan. Selanjutnya, kawasan bersejarah seluas lima belas hektare ini menyimpan peninggalan peradaban masa Kedatuan Sriwijaya dari abad kesembilan masehi.

Baca juga: Mengungkap Pesona dan Sejarah Candi Gumpung di Jambi

Sejarah mencatat bahwa seorang penjelajah asal Belanda bernama E.P Tombrink melaporkan penemuan reruntuhan kuno ini pada tahun 1864. Kemudian, penemuan bangunan suci ini membuktikan pesatnya perkembangan agama Hindu beraliran Siwa di wilayah pedalaman pulau Sumatera. Oleh karena itu, para ahli terus melakukan riset mendalam untuk menjaga peninggalan arkeologi yang sangat berharga tersebut.

Fakta Sejarah Kompleks Candi Bumiayu

Sementara itu, para peneliti telah mengidentifikasi keberadaan sebelas struktur bangunan bata merah kuno di kawasan peninggalan purbakala tersebut. Saat ini, pemerintah daerah baru berhasil memugar lima buah bangunan utama yang meliputi candi satu, dua, tiga, tujuh, dan delapan. Di sisi lain, enam struktur candi sisanya masih berbentuk gundukan tanah yang memerlukan kajian ekskavasi lebih lanjut.

Baca juga: Fakta Menarik Sejarah Candi Bahal Sebagai Warisan Kerajaan Sriwijaya

Lebih lanjut, tiga bangunan candi pertama pada masa lampau secara khusus difungsikan sebagai lokasi pusat pemujaan yang sakral. Sebaliknya, bangunan candi lainnya hanya berfungsi sebagai struktur pendukung untuk melengkapi rangkaian prosesi ibadah umat beragama masa itu. Bahkan, para arkeolog juga sukses menemukan arca Nandi, arca Siwa Mahadewa, hingga arca Agastya di sekitar reruntuhan candi.

Selanjutnya, konsep arsitektur situs budaya ini secara nyata melambangkan triloka yang membagi alam semesta menjadi tiga tingkatan berbeda. Bagian dasar atau bhurloka mewakili dunia manusia, sedangkan bhuwarloka merupakan tempat penyucian jiwa menuju tahap kesempurnaan hakiki. Kemudian, bagian puncak bangunan melambangkan swarloka yang menjadi tempat kedudukan tertinggi bagi keberadaan para roh dewa dan leluhur.

Bukti Toleransi Beragama dan Kekayaan Hayati pada Relief Purbakala

Khususnya, situs percandian ini menyimpan bukti kuat mengenai toleransi beragama melalui perpaduan elemen Hindu, Buddha, serta aliran Tantrayana. Selain itu, para arkeolog menemukan berbagai pahatan relief flora dan fauna yang menggambarkan kekayaan ekosistem lahan basah. Pahatan ukiran kuno tersebut secara indah menampilkan wujud burung kuntul, buaya rawa, bunga teratai, hingga wujud mamalia kera.

Baca juga: Fakta Menarik di Balik Surat Raja Sriwijaya ke Khalifah Umar bin Abdul Aziz

Di samping itu, jejak kura-kura air tawar berukuran besar yang bernama spesies byuku juga terekam pada relief candi. Sayangnya, akibat perubahan bentang alam yang terjadi terus-menerus, berbagai fauna endemik tersebut kini mulai sulit ditemukan oleh masyarakat. Meskipun demikian, ingatan kuat para warga lokal terhadap kekayaan hayati ini tetap terjaga abadi melalui kisah sastra tutur.

Sebagai hasilnya, pemerintah daerah memanfaatkan kawasan bersejarah ini menjadi sumber laboratorium edukasi interaktif bagi para kelompok generasi muda. Rangkaian kegiatan kunjungan lapangan terbukti sangat efektif untuk meningkatkan ilmu pengetahuan siswa mengenai peradaban luhur bangsa kita masa lampau. Melalui upaya ini, kita senantiasa bisa merawat warisan peradaban sekaligus mengkaji alur sejarah Candi Bumiayu secara utuh. (Muhafid/R6/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |