Makam Syekh Musa Cianjur menjadi salah satu destinasi wisata religi dengan nilai sejarah sekaligus spiritual mendalam. Selain jadi tempat peristirahatan terakhir Syekh Musa, kompleks makam keramat ini juga menyimpan banyak kisah menarik. Terutama yang berkaitan dengan perjalanan bangsa Indonesia sebelum masa kemerdekaan.
Baca Juga: Makam Syekh Bentong, Ikon Ziarah Bersejarah di Karawang
Berada di kawasan dataran tinggi Kecamatan Sukanegara, suasana di sekitar makam terasa sejuk serta tenang. Lokasinya hampir tak pernah sepi peziarah, baik yang berasal dari Cianjur maupun berbagai daerah di Indonesia. Banyak yang datang untuk berdoa, mengenal lebih dekat sosok Syekh Musa, hingga melihat langsung peninggalan-peninggalannya.
Napak Tilas Makam Syekh Musa Cianjur dan Jasa-Jasanya
Syekh Musa adalah tokoh tasawuf populer yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan dakwah Islam di Cianjur. Khususnya wilayah Cianjur bagian Selatan. Ia memiliki nama asli KH Ahmad Basyari. Namun, masyarakat lokal lebih mengenalnya dengan sebutan Ajengan Musa atau Mama Ajengan Cikiruh.
Sosok Syekh Musa merupakan putra dari ulama besar Syaikh Nawawi Jombang. Lahir di Jombang pada 1818 Masehi dan wafat 1956 Masehi. Selama hidupnya, Ajengan Musa terkenal sebagai ulama yang memiliki keilmuan agama mendalam. Dengan ilmu tinggi ini, ia lantas menjadi guru besar bagi banyak murid. Termasuk banyak tokoh penting dalam sejarah Indonesia.
Salah satu yang paling banyak sejarah ceritakan adalah kedekatannya dengan Ir. Soekarno. Menjelang masa kemerdekaan, Bung Karno beberapa kali datang ke Pesantren Al-Basyariyah di Sukanegara melalui perantara A.A. Wiranatakusuma. Di tempat itulah Bung Karno menjalani berbagai pertemuan, berdiskusi, hingga melakukan tirakat untuk mempersiapkan perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia.
Dalam sejumlah catatan sejarah, Syekh Musa termasuk salah satu ulama yang memberikan dukungan spiritual kepada Bung Karno. Hubungan Syekh Musa dengan tokoh nasional tidak berhenti pada masa Bung Karno. Namanya juga dikenal oleh kalangan ulama dan pemimpin bangsa pada generasi berikutnya.
Salah satu tokoh yang pernah berkunjung adalah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Semasa kecil, Gus Dur kabarnya pernah datang ke Sukanegara, Cianjur, bersama ayahnya, KH Wahid Hasyim. Kunjungan tersebut menjadi bukti besarnya penghormatan terhadap sosok Ajengan Musa sebagai tokoh agama yang memiliki pengaruh luas.
Selalu Ramai Dikunjungi Peziarah
Di era modern seperti sekarang, makam Syekh Musa Cianjur tetap menjadi salah satu tujuan wisata religi yang populer. Para peziarah datang tidak hanya untuk mendoakan, tetapi juga mempelajari sejarah perjuangan ulama Nusantara. Tokoh-tokoh yang turut memberikan kontribusi terhadap lahirnya bangsa Indonesia.
Baca Juga: Makam Imogiri Bantul, Peristirahatan Terakhir Para Raja Mataram Islam
Suasana kawasan makam yang berada di dataran tinggi memberikan ketenangan tersendiri bagi para pengunjung. Udara sejuk, lingkungan asri, serta nuansa religius membuat banyak orang merasa nyaman saat berziarah. Bahkan tak sedikit peziarah mengikuti kegiatan keagamaan yang sesekali terselenggara di sekitar kompleks pesantren.
Biasanya, rombongan yang datang berasal dari kalangan santri, komunitas sejarah, hingga wisatawan umum. Khususnya yang ingin menjadikan lokasi ini sebagai bagian dari perjalanan religi sekaligus edukasi sejarah. Ada juga beberapa turis asing yang sesekali datang untuk menjawab rasa penasaran sambil belajar.
Makamnya Menyimpan Banyak Peninggalan Sejarah
Selain menjadi lokasi ziarah, kompleks Makam Syekh Musa Cianjur turut menyimpan beragam peninggalan sejarah. Salah satunya yaitu rumah singgah Soekarno. Presiden Pertama RI itu dahulu kerap datang ke Sukanegara Cianjur dan singgah di hunian sederhana tersebut. Di dalamnya masih tersimpan sejumlah koleksi, seperti perabot sederhana, meja, kursi kayu, hingga ruangan perenungan. Di sisi luar area makan, ada kolam air berukuran sedang.
Cerita Tentang Pemilihan Warna Bendera Merah Putih
Tak kalah menarik dari napak tilas makam, ada cerita lain yang erat kaitannya dengan Syekh Musa Cianjur. Ini mengenai penggunaan warna merah dan putih jauh sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Konon, Syekh Musa telah memesan kain merah dan putih pada tahun 1939 kepada seorang pedagang dari Pekalongan.
Bendera tersebut kemudian ia kibarkan di lingkungan Pesantren Al-Basyariyah pada tahun 1942. Jauh sebelum Bendera Pusaka dijahit oleh Fatmawati untuk upacara Proklamasi tahun 1945. Terlepas dari berbagai versi sejarah yang berkembang, kisah tersebut menunjukkan besarnya semangat nasionalisme. Khususnya yang tumbuh di lingkungan pesantren pada masa perjuangan kemerdekaan.
Baca Juga: Makam Mama Sempur Purwakarta Destinasi Wisata Religi di Jawa Barat
Makam Syekh Musa Cianjur senantiasa buka untuk umum. Semua orang boleh datang ke kawasan makam di Sukanegara, Cianjur, untuk belajar sejarah atau mengenal sosok Syekh Musa. Pihak juru kunci akan memandu pengunjung untuk mengenal setiap sudut pemakaman yang luas. Selalu pastikan datang dengan niat yang bersih serta menaati aturan di area makam. (R10/HR-Online)

1 day ago
18

















































