harapanrakyat.com,- Aroma gurih kencur berpadu dengan pedasnya cabai langsung menyambut siapa saja yang melintas di outlet Seblak Chacha di Dusun Karacak, Desa Handapherang, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Di salah satu sudut lokasi, antrean pengunjung nyaris tak pernah putus. Mulai dari pelajar, mahasiswa hingga ibu rumah tangga rela menunggu giliran demi menikmati semangkuk seblak dari Seblak Chacha.
Seblak Chaha cabang Karacak menjadi salah satu yang paling ramai dikunjungi. Selain menawarkan konsep prasmanan dengan beragam pilihan topping, lokasi ini juga menyuguhkan pemandangan hamparan sawah yang menambah daya tarik pengunjung. Namun di balik kesuksesan tersebut, tersimpan kisah perjuangan sepasang suami istri yang memulai usaha dari keterpurukan ekonomi pasca pandemi Covid-19.
Baca Juga: Kisah Pensiunan di Ciamis Menanti Kedatangan Petugas BRI Setiap Bulan
Adalah Helmi Kasim (49) dan istrinya, Lastri Sulastri (42), warga Jalan Karanggedang, Kelurahan Linggasari, Kecamatan Ciamis, yang menjadi sosok di balik berkembangnya usaha Seblak Chacha.
Sebelum terjun ke bisnis kuliner, Helmi diketahui menekuni usaha sebagai pemasok buah-buahan untuk sejumlah supermarket. Namun pandemi Covid-19 membuat usaha yang telah dirintisnya mengalami kemunduran hingga akhirnya berhenti beroperasi.
Saat sedang kebingungan mencari sumber penghasilan baru, Helmi mendapat dorongan dari saudaranya di Tasikmalaya yang bergerak di bidang katering. Saat itu, usaha seblak dinilai memiliki peluang karena menawarkan makanan yang digemari masyarakat dengan harga terjangkau.
“Awalnya dari kebingungan selepas Covid-19 itu. Usaha buah-buahan bener-bener enggak berjalan. Di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil, saudara saya di Tasik yang kebetulan bergerak di bidang katering meyakinkan kami untuk buka usaha seblak. Katanya, masyarakat saat itu butuh jajanan yang murah meriah,” kenang ayah dari tiga orang anak ini.
Arti di Balik Nama Seblak Chacha Ciamis dan Konsep Full Prasmanan
Antrean pembeli di Seblak Chacha Ciamis. Foto: Fahmi Albartiansyah/HRDengan modal hanya Rp2 juta, Helmi dan Lastri mulai merintis usaha pada tahun 2021. Mereka memanfaatkan pekarangan rumah sebagai tempat berjualan. Bersama ibu, adik dan bibinya, pasangan ini bergotong royong membangun usaha yang saat itu masih jauh dari bayangan menjadi salah satu kuliner hits di Ciamis.
Nama ‘Chacha’ yang kini dikenal luas ternyata memiliki cerita tersendiri. Nama tersebut berasal dari panggilan unik anak mereka yang berkebutuhan khusus. Saat kecil, sang anak kesulitan mengucapkan nama tantenya yang biasa dipanggil Cica. Ia justru menyebutnya ‘Chacha’. Panggilan itulah yang kemudian digunakan sebagai nama usaha keluarga hingga akhirnya melekat menjadi identitas Seblak Chacha.
Baca Juga: Kisah Ari dan Andi Bertahan di Tengah Sepinya Pasar Ciamis
Salah satu strategi yang membuat usaha ini berkembang adalah keberanian menghadirkan konsep prasmanan dengan pilihan topping yang beragam. Sejak awal, Seblak Chacha menyediakan puluhan jenis topping yang dapat dipilih sesuai selera pelanggan. Konsep tersebut mendapat respons positif karena memberikan pengalaman berbeda dibandingkan penjual seblak pada umumnya.
Untuk menjaga kualitas rasa di seluruh cabang, Helmi juga menerapkan sistem dapur terpusat. Seluruh bumbu dan bahan baku dipersiapkan terlebih dahulu di rumah utama sebelum didistribusikan ke masing-masing outlet. Dengan cara tersebut, cita rasa yang diterima pelanggan tetap konsisten meski jumlah cabang terus bertambah.
Kerja keras mereka perlahan membuahkan hasil. Dari usaha rumahan sederhana, Seblak Chacha kini berkembang menjadi enam outlet yang tersebar di sejumlah titik strategis di Kabupaten Ciamis. Cabang pertama berada di Karanggedang sebagai pusat usaha. Kemudian berkembang ke Karacak Handapherang, kawasan Al-Ghani, Cikoneng, Baregbeg, hingga Bojong.
Pertumbuhan usaha tersebut turut membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Jika pada awalnya seluruh operasional dikerjakan anggota keluarga tanpa bantuan karyawan, kini Seblak Chacha mempekerjakan sekitar 40 hingga 50 orang. Khusus di cabang Karacak yang menjadi salah satu lokasi terpadat, jumlah pekerja mencapai 13 orang.
Kemudahan Pembayaran Lewat QRIS BRI
Pembeli Seblak Chacha Ciamis membayar dengan QRIS BRI. Foto: Fahmi Albartiansyah/HRHelmi mengakui perkembangan teknologi juga menjadi bagian penting dalam mempertahankan usaha. Menyesuaikan kebiasaan generasi muda yang semakin akrab dengan transaksi non tunai, Seblak Chacha kini menyediakan layanan pembayaran menggunakan QRIS dari BRI.
“Anak-anak sekarang kadang jajan minuman Rp7.000 atau Rp10.000 pun maunya pakai QRIS. Mau tidak mau kita harus mengikuti perkembangan dan beradaptasi,” ujarnya.
Bagi Helmi, kunci bertahan dalam dunia usaha bukan hanya soal modal besar, tetapi keberanian belajar dan berinovasi. Ia pun berpesan kepada generasi muda yang ingin memulai usaha agar tidak takut mengambil inspirasi dari bisnis yang sudah ada, selama mampu menghadirkan nilai tambah dan pembaruan.
“Saya bukan pelopor seblak. Tapi kita melihat tren yang ada lalu melakukan inovasi. Yang penting terus berkembang. Kalau tidak berkembang, akan sulit bertahan,” katanya.
Sementara itu, Siti Wulansari (25), ibu rumah tangga asal Desa Utama, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis mengaku sudah lama menjadi langganan Seblak Chacha.
“Kalau ibu-ibu mau jajan itu kan kalau nggak bakso ya seblak. Khusus untuk seblak selalu ke Seblak Chacha ini, di outlet mana pun rasanya sama, enak, dan murah karena bisa pilih isi seblaknya apa, jadi disesuaikan sama isi dompet juga,” katanya.
Baca Juga: Soto Ayam Kampung Khidmat Ciamis, Mengikat Pelanggan Lewat Rasa Otentik
Kemudahan pembayaran dengan menggunakan QRIS BRI juga menjadi pertimbangan ibu satu orang anak ini. “Kalau ada QRIS kan jadi lebih mudah kalau mau bayar, gak ribet bawa uang tunai. Asal HP-nya nggak ketinggalan aja,” ujar Wulan sambil tertawa. (Fahmi/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

17 hours ago
14

















































