harapanrakyat.com,- Maraknya ketergantungan gawai (baik smartphone maupun tablet) pada anak-anak saat ini kian meresahkan para orang tua. Menjawab tantangan tersebut, gerakan Ulin Taman Jingga hadir menggelar ruang bermain yang interaktif, edukatif, dan ramah anak di Atrium Asia Plaza, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Minggu (2/8/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan di pusat keramaian ini sukses menyedot perhatian pengunjung akhir pekan. Tak kurang dari 600 peserta dari berbagai wilayah, bahkan luar Kota Tasikmalaya, tampak antusias mengikuti permainan kaulinan lembur (permainan tradisional).
Bangun Karakter Melalui Ulin Taman Jingga di Tasikmalaya
Baca Juga: Di Pendopo Kota Bandung, PIM Jawa Barat Ajak Generasi Muda Cintai dan Bangga pada Kebaya
Ketua Pelaksana Kegiatan, Lisna menjelaskan, hadirnya Ulin Taman Jingga berawal dari kepedulian terhadap makin terbatasnya ruang bermain yang aman dan bermakna bagi anak-anak.
Ia menilai, di era digital, kesempatan anak untuk bergerak aktif, berinteraksi sosial, dan mengenal budaya lokal makin tergerus.
“Melalui Ulin Taman Jingga, kami ingin mengingatkan kembali bahwa bermain bukan sekadar hiburan, melainkan bagian penting dari proses tumbuh kembang anak,” jelasnya.
Lisna menegaskan, permainan tradisional kaya akan nilai moral, seperti kerjasama, kejujuran, sportivitas, dan disiplin. Selain melatih keterampilan motorik, permainan warisan leluhur ini membuktikan bahwa kebahagiaan anak tidak selalu bersumber dari layar gawai.
Respons Positif Orang Tua
Manfaat kegiatan ini dirasakan langsung oleh masyarakat. Ucun, warga Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya, mengaku sangat terbantu dengan adanya ajang edukasi tersebut. Ia membawa dua anaknya untuk merasakan langsung serunya permainan masa lalu.
Baca Juga: Gebyar Angklung ke-2 PWRI Ciamis, Bupati Herdiat Dorong Promosi Buatan Lokal
“Sangat positif sekali. Anak-anak zaman sekarang kan banyak yang tidak tahu permainan dulu. Bahkan ibu-ibu yang masih muda juga banyak yang lupa. Acara ini membuka mata hati kami bahwa permainan sehat itu bisa kita ciptakan sendiri di rumah,” tuturnya.
Ucun tak menampik bahwa kecanduan HP telah mengubah perilaku anak secara drastis. Berdasarkan pengamatannya, gawai membuat anak menjadi kurang peduli pada lingkungan sekitar dan hidup dalam dunia khayalan.
“Anak jadi seolah punya dunia sendiri dan tidak tahu lingkungan. Maka bagus sekali kalau dikembalikan lagi ke kegiatan motorik kasar seperti ini. Anak jadi lebih kreatif, punya ide bagus, dan mengalami hal yang riil. Bukan sekadar imajinasi digital,” tambahnya.
Pentingnya Kolaborasi dan Literasi Kebudayaan
Dukungan juga datang dari Komite Budaya Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya, Cevi Whiesa. Menurutnya, Ulin Taman Jingga adalah ruang refleksi bersama antara anak dan orang tua di tengah perubahan zaman.
“Sebenarnya anak-anak tidak lupa, mereka hanya tidak tahu karena zamannya sudah berganti dan rantai pengetahuannya terputus. PR kita kedepan adalah bagaimana menyelenggarakan ruang seperti ini secara masif, dan membekali orang tua dengan literasi kebudayaan,” katanya.
Baca Juga: Perayaan Hajat Laut Pangandaran Libatkan Pelajar, Tradisi Leluhur Dikenalkan Lewat Seni dan Literasi
Cevi juga mengatakan, pemerintah daerah memiliki kewajiban moral untuk menjaga kelestarian permainan tradisional sebagai identitas budaya. Menurutnya, kolaborasi antara komunitas dan pemerintah akan memberikan dampak yang lebih besar. Namun, ia juga menekankan pentingnya fleksibilitas agar nilai tradisi tetap relevan di era modern.
“Antara nilai tradisi dan modernitas itu bisa digabungkan. Mengapa tidak, permainan tradisional dibuatkan aplikasi digital yang mengedukasi. Kita tidak bisa melawan, tapi harus menyesuaikan. Kuncinya ada dua, komunitas harus hidup, dan orang tua harus punya kepekaan bahwa anak adalah subjek,” pungkas Cevi. (Rafi/R3/HR-Online/Editor: Eva)

7 hours ago
6

















































