harapanrakyat.com,- Indonesia kini bersiap menghadapi tantangan iklim yang serius. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan dini mengenai fenomena El Nino kategori kuat yang diprediksi akan bertahan hingga kuartal pertama tahun 2027.
Situasi ini diperparah dengan munculnya potensi fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) Positif pada akhir tahun 2026, yang berisiko memperburuk kekeringan. Serta ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
BMKG Prediksi Fenomena El Nino Kuat, Wilayah Terdampak Meluas
Baca Juga: BMKG Peringatkan Kekeringan Ekstrem Juli 2026: 73 Persen Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau
Hingga pertengahan Juli 2026, data menunjukkan bahwa lebih dari 54,5 persen wilayah Indonesia atau sekitar 509 Zona Musim (ZOM) telah memasuki masa kemarau.
BMKG memproyeksikan puncak kekeringan akan terjadi pada Agustus yang meliputi 48,84 persen wilayah daratan. Serta bulan September yang meliputi 25,41 persen wilayah daratan.
Salah satu catatan Hari Tanpa Hujan (HTH) paling ekstrem di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, di mana hujan tidak turun selama 80 hari berturut-turut. Kondisi ini menyebabkan sebagian besar daerah di Indonesia menghadapi musim kemarau yang jauh lebih kering dari kondisi normal.
Kekeringan ekstrem ini berbanding lurus dengan meningkatnya risiko kebakaran. Hingga akhir Juli 2026, BMKG telah mengidentifikasi 5.019 titik panas (hotspot) yang tersebar di wilayah rawan. Seperti Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau.
Partikulat asap bahkan mulai terdeteksi di atmosfer Kalimantan Barat melalui pantauan satelit. Wilayah yang diimbau untuk waspada penuh meliputi Sumatera (Riau, Sumatera Selatan, Jambi). Kemudian Kalimantan (Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah), dan Papua Selatan.
Operasi Modifikasi Cuaca
Baca Juga: Waspada El Nino Kuat 2026! BMKG Peringatkan Ancaman Kekeringan Ekstrem hingga Oktober
Menanggapi prediksi fenomena El Nino kategori kuat ini, BMKG secara proaktif menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di berbagai titik strategis. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam keterangannya menegaskan, langkah ini adalah bentuk komitmen pemerintah dalam mitigasi bencana hidrometeorologi secara terpadu.
Fokus utama OMC tahun 2026 adalah melakukan penyemaian awan di area rawan karhutla seperti Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah. Kemudian, pengisian waduk sebagai upaya untuk menjaga cadangan air baku di Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba, DAS Citarum, DAS Brantas, hingga DAS Mamasa.
Dampak Sektoral
Krisis air ini mengharuskan berbagai sektor untuk melakukan adaptasi cepat. Di sektor pertanian, petani disarankan beralih ke varietas tanaman yang tahan kekeringan dan menyesuaikan jadwal tanam.
Sektor kesehatan, masyarakat harus waspada terhadap risiko penyakit ISPA akibat polusi asap. Serta ancaman DBD, malaria, hingga heat-stroke akibat kenaikan suhu.
Baca Juga: Jawa Barat Siaga Hadapi El Nino Godzilla dan Krisis Sampah, KDM Gandeng TNI-BMKG
Sedangkan sektor ekonomi, kondisi ini membawa berkah bagi industri garam karena produksi dapat meningkat. Serta sektor perikanan berkat fenomena upwelling yang memaksimalkan hasil tangkapan laut.
Meskipun intensitas fenomena El Nino diprediksi tetap kuat hingga awal 2027, dampak paling signifikan di Indonesia diperkirakan akan terfokus selama periode musim kemarau berlangsung. Kesadaran masyarakat dan koordinasi antar lembaga menjadi kunci utama dalam melewati masa kritis ini. (R3/HR-Online/Editor: Eva)

6 hours ago
8

















































