Mengungkap Sejarah Perjanjian Luso Sunda di Nusantara Abad Keenam Belas

3 hours ago 8

harapanrakyat.com,- Peristiwa sejarah perjanjian luso sunda pada abad ke-16 menyimpan berbagai fakta penting bagi sejarah Indonesia. Selanjutnya, kesepakatan ini melibatkan pihak Kerajaan Pajajaran dan perwakilan bangsa Portugis di bumi Nusantara. Oleh karena itu, kita perlu mempelajari latar belakang terjadinya peristiwa bersejarah ini secara mendalam.

Baca juga: Sejarah Perjanjian Bongaya, Awal Dominasi VOC di Sulawesi

Pada awalnya, Kerajaan Pajajaran merasa sangat terancam oleh perkembangan kekuatan politik Islam di Nusantara. Kekuatan Kesultanan Demak dan Cirebon perlahan mulai mendominasi jalur perdagangan pesisir pantai utara Jawa. Akibatnya, Raja Sri Baduga segera mengutus putra mahkota Surawisesa ke Malaka untuk mencari bantuan militer.

Latar Belakang Perjanjian Bersejarah Luso dengan Sunda

Kemudian, langkah diplomasi politik sang penguasa ini bertujuan utama untuk mengamankan posisi pelabuhan dagang mereka. Pelabuhan Kalapa merupakan urat nadi perekonomian kerajaan yang sangat menguntungkan bagi perdagangan rempah dunia. Di sisi lain, bangsa Portugis memang sedang mencari akses langsung menuju pusat wilayah penghasil lada.

Lebih lanjut, bangsa Portugis menyambut baik tawaran kerja sama militer dari pihak Sunda tersebut. Tepat pada tanggal 21 Agustus 1522, utusan Portugis bernama Henrique Leme tiba di pelabuhan. Setelah itu, kedua belah pihak secara resmi menandatangani naskah kesepakatan dagang dan keamanan wilayah maritim.

Baca juga: Sejarah Perjanjian Renville, Pemicu Berdirinya NII di Tasikmalaya

Di samping itu, isi kesepakatan tersebut memberikan kebebasan bagi Portugis untuk mendirikan sebuah benteng. Benteng pertahanan tersebut rencananya akan dibangun persis di kawasan mulut aliran Sungai Ciliwung utama. Sebagai imbalannya, raja berjanji akan menyerahkan seribu karung lada setiap tahun kepada raja Portugal.

Selain itu, mereka juga mendirikan sebuah batu peringatan yang lazim dikenal dengan nama Padrao. Batu andesit ini ditanam tegak di tepi sungai sebagai simbol sahnya kesepakatan kedua belah pihak. Bahkan, proses penanaman tugu tersebut disaksikan langsung oleh para pejabat penting dari lingkungan istana kerajaan.

Sementara itu, pejabat kerajaan yang turut hadir meliputi Tumenggung, Sang Adipati, Bendahara, serta Syahbandar. Mereka melegalisasi dokumen kesepakatan tersebut menggunakan tradisi selamatan lokal alih-alih membubuhkan tanda tangan resmi. Tentu saja, pertukaran budaya dalam proses diplomasi ini sungguh sangat unik untuk diteliti bersama.

Portugis Gagal Menepati Janji

Namun, pihak Portugis ternyata gagal menepati janji untuk segera kembali membangun benteng pertahanan tersebut. Hal ini murni disebabkan oleh adanya berbagai masalah internal yang melanda wilayah pusat pertahanan Goa. Padahal, ancaman serangan dari laskar gabungan Demak dan Cirebon sudah semakin dekat dan amat nyata.

Kemudian, pasukan gabungan Demak pimpinan Fatahillah akhirnya berhasil merebut pelabuhan strategis tersebut lebih dahulu. Penaklukan bersejarah pelabuhan Kalapa ini terjadi secara gemilang pada tanggal 22 Juni 1527 silam. Akibatnya, wilayah pesisir itu segera berganti nama menjadi Jayakarta yang memiliki arti sebuah kota kemenangan.

Baca juga: Sejarah Panjang Benteng Fort Rotterdam dari Masa Kerajaan Gowa-Tallo

Pada akhirnya, keterlambatan armada Portugis ini membawa kerugian besar bagi ambisi monopoli perdagangan mereka. Ketika Francisco de Sa tiba pada tahun 1527, kota pelabuhan itu sudah beralih kekuasaan. Selanjutnya, panglima Fatahillah langsung memukul mundur kapal Portugis dari perairan tersebut dengan perlawanan yang sengit.

Pada kenyataannya, sisa peninggalan fisik dari perjanjian luso sunda kini tersimpan aman di Museum Nasional. Bahkan, para arkeolog terus meneliti artefak batu Padrao tersebut untuk menggali informasi lebih mendetail. (Muhafid/R6/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |