Mengungkap Metode Thomas Stamford Raffles Menulis Buku The History of Java 

4 weeks ago 33

harapanrakyat.com,- Sir Thomas Stamford Raffles seringkali hanya dikenang sebagai administrator kolonial Inggris. Ia juga memimpin di wilayah Jawa dalam waktu singkat. Namun, di balik jabatan Letnan Gubernur, Raffles juga terkenal sebagai cendekiawan berdedikasi. Ia mewariskan literatur penting tentang nusantara, yaitu The History of Java, yang diterbitkan pada 1817.

Buku legendaris ini bukanlah sekadar catatan harian seorang penjajah. Sebaliknya, ia adalah ensiklopedia komprehensif yang disusun dengan metode penelitian ilmiah ketat. Berdasarkan catatan dalam The History of Java Volume II, terungkap bahwa Raffles tidak bekerja sendirian di menara gading. Ia malah turun langsung ke lapangan dan membangun jaringan intelektual yang luas.

Salah satu kunci keberhasilan Raffles dalam menyusun sejarah Jawa yang akurat adalah kerendahan hatinya. Ia mengakui bahwa ia membutuhkan bantuan para ahli lokal. Ia tidak memposisikan diri sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Sebaliknya, Raffles secara aktif meminta para pemimpin lokal yang berpendidikan untuk menyusun ringkasan sejarah baginya.

Baca juga: Asal-usul Candi Borobudur, Peninggalan Dinasti Syailendra yang Pernah Dicuri dan Dijarah

Dalam catatannya, Raffles memberikan penghormatan khusus kepada Panembahan Sumenep, Nata Kusuma. Bahkan ia sendiri menggambarkan Nata Kusuma memiliki pengetahuan luas (eminent erudition). Panembahan ini berperan vital dalam menerjemahkan prasasti kuno dan menyusun naskah sejarah yang mencakup wilayah timur Jawa hingga Bali.

Selain itu, Raffles juga dibantu oleh Kiai Adipati Demak atau Adipati Adi Manggala. Ia memiliki keahlian spesifik dalam menyusun kronologi para pangeran dan kerajaan di Jawa. Sang Adipati juga membantu Raffles menafsirkan penanggalan rumit pada koin-koin kuno. Ini memastikan akurasi data numismatik dalam bukunya.

Tidak hanya elit pribumi, Raffles juga mengerahkan tim ahli dari kalangan militer dan ilmuwan Eropa. Ia mempekerjakan Kapten George Baker untuk melakukan survei pengukuran bangunan candi. Selain itu, ia menggunakan catatan dari Kolonel Colin Mackenzie dan Dr. Horsfield untuk data wilayah timur.

Uniknya, Raffles juga dibantu oleh seorang Sepoy atau tentara India. Dia pernah tinggal di antara para Brahmana di Benares. Tentara India inilah yang membantu mengidentifikasi patung-patung dewa Hindu yang ditemukan di reruntuhan seperti Prambanan. Ini berkat kemahirannya dalam mitologi Hindu yang mendalam.

Ekspedisi Berkuda Menembus Hutan dan Reruntuhan

Proses pengumpulan data ini bukanlah pekerjaan di balik meja. Sebaliknya, itu adalah sebuah petualangan fisik yang melelahkan. Ini terjadi menjelang akhir masa jabatannya pada 1815. Thomas Stamford Raffles melakukan perjalanan menembus hutan belantara Jawa untuk menyaksikan sendiri sisa-sisa peradaban yang terkubur atau tertutup vegetasi lebat.

Dalam catatannya, ia menyebutkan penggunaan kuda saat melakukan ekspedisi di wilayah Jawa Timur yang medannya berat. Ia juga menuliskan pengalaman menunggangi kuda di reruntuhan benteng dan mengelilingi situs Kotah Bedah untuk memeriksa detail bangunan secara langsung.

Baca juga: Sejarah Candi Kalasan dan Teknologi Kuno Vajralepa yang Membuat Ukiran Awet Berabad-abad

Sementara itu, rute perjalanannya mencakup wilayah sangat luas. Ini dimulai dari reruntuhan di Dieng dan Candi Suku di perbatasan Surakarta pada Mei 1815. Ia kemudian bergerak ke timur, menjelajahi Pasuruan, Lawang, hingga Malang. Tujuannya guna meneliti candi-candi di Singosari, Kidal, Jago, dan Penataran. 

Kunjungan langsung ini didorong oleh kritiknya terhadap kebijakan pemerintah Belanda sebelumnya yang ia sebut sebagai narrow policy atau kebijakan sempit.

Menurut Raffles, kebijakan tertutup Belanda telah menutup akses penelitian. Akibatnya, banyak sejarah kuno Jawa terkubur di bawah sampah ketidaktahuan selama berabad-abad. Motivasi utamanya bukan sekadar administrasi, melainkan kekaguman tulus pada jejak peradaban tingkat tinggi. Ini terlihat dari reruntuhan bangunan dan karya sastra Jawa. Ini adalah bagian penting dari metode Sir Thomas Raffles dalam menyusun narasi sejarah yang utuh.

Pemanfaatan Manuskrip Kuno dan Tradisi Lisan

Untuk melengkapi data lapangan, Raffles juga mengumpulkan berbagai manuskrip langka seperti Babad Tanah Jawi. Selain itu, karya sastra Kawi juga dikoleksi, serta naskah daun lontar dari keturunan Pajajaran. Kemudian, ia juga mempelajari teks-teks seperti Bábat Janggala dan Bratayudha. Tujuannya adalah untuk memahami konteks budaya dan agama yang melatarbelakangi situs-situs yang ia temukan.

Meski begitu, Ia tidak mengabaikan tradisi lisan yang beredar di masyarakat. Ia melakukannya dengan membandingkan berbagai versi cerita rakyat dari daerah yang berbeda. Misalnya, ia membandingkan catatan Jawa dan Bali mengenai tokoh mitologis seperti Aji Saka. Tujuannya adalah mencari benang merah sejarah di antara mitos yang berkembang. 

Baca juga: Mengungkap Misteri Sejarah Candi Ijo yang Menyimpan Mantra Kutukan Kehancuran

Metode cross-reference atau silang data ini menunjukkan bahwa Raffles menerapkan standar akademis yang tinggi. Ia melakukannya layaknya seorang peneliti modern. Ia memadukan data fisik dari prasasti dan koin dengan data literatur dari naskah kuno. Hal ini untuk membangun narasi sejarah yang utuh dan objektif.

Karya The History of Java pada akhirnya bukan hanya laporan kolonial. Sebaliknya, itu adalah sebuah monumen cinta dan penghargaan Raffles terhadap pulau ini. Melalui kolaborasi dan kerja lapangan yang mendalam, metode Raffles berhasil membuktikan kepada dunia Barat. Ini menunjukkan bahwa Jawa memiliki sejarah kebudayaan yang agung dan luhur.  Bahkan, dalam penutup pengantar tulisannya, Thomas Stamford Raffles menuliskan pernyataan emosional. Ia mengatakan bahwa ia merekam sejarah Indonesia tersebut dengan penghargaan dan kasih sayang yang khusus terhadap orang-orang Jawa. (Muhafid/R6/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |