harapanrakyat.com,- Topik mengenai kisah Raja Zulkarnain selalu mengundang decak kagum dalam lembaran sejarah Islam karena sarat keteladanan. Tokoh pengembara tangguh ini terekam sangat rinci dalam firman suci Al Quran. Oleh karena itu, banyak umat beragama selalu penasaran terhadap rekam jejaknya.
Baca juga: Menggali Kisah Nabi Habakkuk dan Peristiwa Penjarahan Makamnya di Persia
Pada mulanya, identitas asli sang pemimpin tangguh ini selalu menjadi teka-teki abadi di kalangan mufassir. Sebagian ahli sejarah sempat mengaitkan sosoknya dengan penguasa Alexander Agung dari wilayah Makedonia. Akan tetapi, klaim populer tersebut akhirnya mendapat banyak sanggahan tajam dari para sejarawan.
Misteri Kisah Raja Zulkarnain Bertemu Nabi Khidir
Sementara itu, analisis literatur yang jauh lebih akurat justru merujuk pada sosok Cyrus Agung. Pemimpin bernama Koresy ini diperkirakan memegang tahta Kekaisaran Persia sekitar tahun 539 hingga 560 sebelum Masehi. Penguasa hebat ini bukanlah seorang raja pagan penyembah banyak dewa. Sebaliknya, dalam ajaran Islam ia sangat terkenal akan kemuliaan tauhid dan sikap adilnya.
Baca juga: Sa’ad bin Mu’adz, Sahabat Nabi yang Kisah Wafatnya Mengguncang Arsy
Selanjutnya, teks sejarah menyebutkan bahwa masa keemasannya bertepatan langsung dengan periode dakwah Nabi Ibrahim. Di samping itu, sang penguasa besar ini ternyata memiliki ikatan persaudaraan erat dengan Nabi Khidir. Mereka berdua berstatus sebagai saudara sepupu yang terhubung langsung melalui nasab sang ibu. Fakta ini membuktikan bahwa perjalanannya selalu diliputi energi keberkahan.
Lebih lanjut, karya fenomenalnya masih terus memicu rasa penasaran ahli arkeologi di seluruh penjuru dunia. Berdasarkan ayat suci, ia telah mendirikan sebuah tembok pertahanan raksasa yang teramat kokoh. Bangunan tersebut tersusun rapi dari campuran balok besi dan cairan tembaga panas. Tujuannya murni untuk membendung invasi brutal dari bangsa Ya’juj dan Ma’juj.
Penelitian Ilmiah Lokasi Tembok Ya’juj dan Ma’juj
Kemudian, para ilmuwan meyakini lokasi tembok pertahanan tebal tersebut kini berada di kawasan Pegunungan Kaukasus. Tepatnya, timbunan besar pemisah ini terletak menyempil di Lorong Darial atau Gerbang Alan. Dinding raksasa ini secara geografis berdiri membelah Laut Hitam dan Laut Qazwain. Posisinya bertengger tegak persis di bagian kaki Gunung Kazbek.
Sebagai tambahan, struktur penghalang kokoh ini membentang amat panjang menyusuri tepian aliran Sungai Terek. Peneliti bernama Abul Kalam Azad menegaskan bahwa wujud fisik tembok besi tersebut masih berlapis-lapis. Penemuan bentang alam ini sungguh sangat sejalan dengan narasi penaklukan dalam Al Quran. Kaum barbar tersebut sama sekali tidak bisa melubangi material tembaganya.
Baca juga: Kisah Nabi Hud Melawan Kesombongan Kaum Ad, Sang Raksasa Pembangun Benteng
Pada kenyataannya, bangsa Ya’juj dan Ma’juj kerap digambarkan sebagai kelompok manusia perusak dengan populasi raksasa. Beberapa ulama mengaitkan ciri fisik mereka dengan suku nomaden bermata sipit dari dataran utara. Mereka akan terus terkurung rapat di balik benteng baja hingga mendekati hari kiamat. Fenomena keluarnya kelompok ini kelak menjadi pertanda hancurnya tatanan dunia.
Sampai saat ini, rekam jejak kisah Raja Zulkarnain terus menjadi objek ekskavasi penting bagi para arkeolog untuk membuktikan naskah Al Quran. Anda bisa membaca beragam manuskrip sejarah kuno untuk menelusuri detail rute perjalanan penakluk tersebut. (Muhafid/R6/HR-Online)

17 hours ago
13

















































