harapanrakyat.com,- Di sebuah rumah di Jalan Kapten Naseh, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, aroma segar fermentasi buah tercium menggantikan bau sampah yang biasanya menyengat. Di sanalah Diviani (55), seorang ibu rumah tangga, mengoperasikan Rumah Eco Enzym dan Kompos. Sebuah gerakan yang mengubah limbah dapur menjadi “cairan ajaib” dengan dampak kesehatan dan lingkungan yang luar biasa.
Dimulai sejak tahun 2023, perjalanan Diviani awalnya dari sebuah ketidaksengajaan. Berawal dari rasa bosan dan rekomendasi teman, ia mulai mempelajari potensi Eco Enzyme melalui YouTube dan pelatihan di tingkat kelurahan. “Awalnya saya lihat di YouTube bahwa Eco Enzyme bisa menjernihkan sungai,” ungkap Diviani, Kamis (9/7/2026).
Ketidakpuasannya pada pelatihan awal justru mendorongnya belajar secara mandiri. Ia pun kemudian bergabung dengan komunitas relawan Eco Enzyme Indonesia.
Baca Juga: Klaim IPAL TPA Ciangir Berjalan Baik, DLH Kota Tasikmalaya: Garansi Pihak Ketiga Masih Berjalan
Manfaat Eco Enzyme untuk Kesehatan dan Rumah Tangga
Melalui eksperimen mandiri, Diviani menemukan berbagai manfaat Eco Enzyme yang nyata bagi kehidupan sehari-hari. Seperti mengatasi masalah rambut rontok, serta sebagai pupuk organik untuk menghasilkan beras organik. Juga untuk membantu pemulihan masalah saraf terjepit (HNP) dan nyeri punggung.
Dalam sebuah sesi edukasi di Sukakarsa, salah satu peserta bahkan melaporkan rasa nyaman pada tulang punggungnya setelah merendam kaki dengan cairan ini selama 30 menit.
Untuk menjaga produksi, Diviani tidak hanya mengandalkan sampah rumah tangga sendiri. Ia secara rutin mengumpulkan sisa sayur dan buah segar dari Pasar Cikurubuk. Serta toko-toko jus yang ada di sekitar Tasikmalaya.
Dengan bantuan satu asisten, produktivitas Rumah Eco Enzym miliknya mencapai angka yang fantastis. Produksi bulanan maksimal 1.000 liter cairan, dan sekitar 300 kilogram sampah organik per bulan. Total produksi dalam 3 tahun terakhir, ia telah menghasilkan hampir 12.000 liter Eco Enzyme.
Edukasi dan Inovasi Produk Turunan
Diviani tidak menyimpan ilmunya sendiri. Ia aktif memberikan edukasi ke sekolah-sekolah dan kelompok masyarakat di berbagai kota, mulai dari Tasikmalaya, Ciamis, hingga Bekasi. Cairan Eco Enzyme buatannya pun dibagikan secara gratis saat sesi sosialisasi.
Selain cairan dasar, ia mengembangkan berbagai inovasi produk turunan seperti sabun mandi batang dan cair, shampo dan sabun muka, karbol alami, dan cuka buah.
Baca Juga: Pemuda Garut Sulap Sampah Plastik Jadi BBM Alternatif, Bisa Digunakan untuk Kompor Minyak
Bagi Diviani, mengolah sampah menjadi kompos dan Eco Enzyme adalah bentuk sedekah kepada mikroorganisme di dalam tanah. Tujuannya bukan sekadar mengurangi beban TPA Ciangir, melainkan demi masa depan lingkungan yang lebih baik.
“Siapapun berhak belajar dan datang ke sini,” tegas Diviani, mengundang siapa saja untuk menimba ilmu pengelolaan sampah organik di rumahnya secara cuma-cuma. (Rafi/R3/HR-Online/Editor: Eva)

23 hours ago
12

















































