harapanrakyat.com,- Bagi generasi yang tumbuh di era 80-an dan 90-an, suara denting koin yang jatuh ke dalam mesin telepon umum adalah melodi komunikasi yang tak terlupakan. Sebelum gawai pintar (smartphone) mendominasi genggaman, fasilitas tersebut adalah “nyawa” konektivitas masyarakat Indonesia yang kini telah bertransformasi menjadi artefak sejarah yang penuh nostalgia.
Lahirnya jaringan telepon umum di Indonesia tidak lepas dari keresahan Presiden ke-2 RI, Soeharto, yang merasa komunikasi antar wilayah saat itu sangat lambat.
Melalui Perusahaan Umum Telekomunikasi (Perumtel), cikal bakal Telkom dan Indosat, pemerintah mulai membangun infrastruktur komunikasi secara masif sejak era 1970-an.
Baca Juga: Daftar Situs Jual Beli Barang Bekas Terpercaya dan Terpopuler
Puncaknya terjadi pada era Pembangunan Lima Tahun (Pelita) IV (1983-1988), yang mana ribuan unit Telepon Umum Koin (TUC) mulai terpasang di trotoar, stasiun, hingga pusat keramaian.
Kehadiran fasilitas ini menghapus kesan elitis pada telepon, menjadikannya sarana yang bisa siapa saja mengaksesnya. Bahkan bagi mereka yang tidak mampu memasang sambungan pribadi di rumah.
Mengenal Jenis Telepon Umum: Kuning, Biru, hingga Kartu
Dahulu, warna kotak telepon memiliki makna tersendiri bagi penggunanya. Warna kuning untuk koin nominal Rp 50 atau Rp 100, warna biru khusus untuk koin Rp 100. Kemudian warna perak (multi-koin), yakni jenis yang lebih modern karena bisa menerima pecahan Rp 50, Rp 100, hingga Rp 500 secara sekaligus untuk durasi bicara yang lebih lama.
Sedangkan Telepon Umum Kartu (TUK) diperkenalkan sekitar tahun 1988. Jenis ini menggunakan kartu telepon khusus atau kartu magnetik untuk melakukan panggilan lokal hingga internasional.
Uniknya, sistem penagihan berbasis nada pada telepon koin ini sempat memicu fenomena phreaking. Para peretas menggunakan perangkat yang mereka sebut “kotak merah” untuk meniru frekuensi nada koin agar bisa menelpon secara gratis. Sebuah praktik ilegal yang akhirnya punah seiring pembaruan teknologi sinyal digital.
Baca Juga: Sejarah Lahirnya TVRI, Pernah Menjadi Alat Propaganda Orde Baru
Era Kejayaan Meredup
Memasuki tahun 2000-an, kejayaan telepon umum mulai meredup. Penurunan harga ponsel dan kemudahan akses kartu perdana membuat masyarakat beralih ke komunikasi personal yang lebih praktis.
Tak hanya itu, maraknya aksi vandalisme dan pencurian kotak koin mempercepat kehancuran fasilitas publik tersebut.
Jejak sejarah telekomunikasi Indonesia sebenarnya sempat diabadikan di Museum Telekomunikasi (Mustel) di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang diresmikan pada 1991.
Sayangnya, museum beratap kubah biru dengan patung Gajah Mada di depannya itu sempat terbengkalai selama bertahun-tahun. Hingga akhirnya dibongkar pada 2022 untuk proyek revitalisasi kawasan.
Jadi Barang Antik Berharga Tinggi
Meski fungsinya sebagai alat komunikasi publik sudah “suntik mati”, telepon umum koin kini memiliki nilai baru sebagai barang koleksi. Di berbagai marketplace, unit telepon koin jadul merk Venus atau model tombol klasik kini diburu untuk dekorasi kafe atau hunian bertema vintage.
Baca Juga: Data Pelanggan Indihome Bocor, Bos Telkom; Karena Akses Situs Terlarang
Berdasarkan pantauan di pasar daring, harga rata-rata telepon koin antik ini berkisar di angka Rp 2.077.463, dengan unit kondisi istimewa. Bahkan bisa menembus harga lebih dari Rp 4,3 juta.
Telepon umum mungkin telah kehilangan kabelnya di jalanan. Namun bagi banyak orang, ia tetap menjadi simbol modernitas kota dan saksi bisu perjalanan teknologi di tanah air. (R3/HR-Online/Editor: Eva)

6 hours ago
7

















































