Penemuan 44 Nysa, Asteroid Berkepala 3 Pertama di Tata Surya

13 hours ago 12

Penemuan 44 Nysa sudah berlangsung cukup lama. Namun, asteroid tersebut belum lama ini berhasil teridentifikasi. Dalam hasil identifikasinya memperlihatkan bahwa 44 Nysa termasuk benda langit yang langka.

Baca Juga: Wahana Tianwen-2 Capai Kamo’oalewa, Bulan Semu Pendamping Bumi

Benda langit ini sendiri ada di sabuk asteroid utama antara planet Mars dan Jupiter. Disebut langka sebab asteroid ini berlobus tiga atau terkenal dengan sebutan berkepala tiga. Untuk informasi selengkapnya tentang 44 Nysa, bisa cek di uraian berikut.

Penemuan 44 Nysa di Tata Surya

Luar angkasa memang menyimpan banyak misteri yang mengundang rasa penasaran kalangan astronom untuk mengungkapnya. Hal ini tak terkecuali di Tata Surya sekalipun. Pada tahun 1857 silam, astronom asal Jerman-Prancis bernama Hermann Goldschmidt berhasil temukan asteroid 44 Nysa.

Akan tetapi, di awal penemuannya, astronom belum bisa mengungkap informasi secara detail tentangnya. Hal ini karena minim teknologi mutakhir. Karena hal itu, 44 Nysa hanya tampak seperti titik cahaya redup di alam semesta.

Pengamatan Teleskop Hubble, SHARK-VIS dan SPHERE/ZIMPOL

Seiring berjalannya waktu, muncul teknologi yang semakin canggih. Salah satunya ialah teleskop luar angkasa yang bernama Hubble. Kalangan astronom memanfaatkan teknologi tersebut untuk melakukan pengamatan pada 44 Nysa secara mendalam. Dari pengamatan tersebut, astronom menduga 44 Nysa memiliki dua lobus.

Namun astronom tak langsung puas begitu saja. Untuk memastikan penemuan 44 Nysa, astronom juga melakukan pengamatan gabungan. Dalam pengamatan lanjutan ini, astronom menggunakan SHARK-VIS di LBT (Large Binocular Telescope) yang ada di Arizona, Amerika Serikat serta SPHERE/ZIMPOL  di VLT (Very Large Telescope) di Cile.

Teleskop-teleskop ini sudah memiliki instrumen pencitraan dengan teknologi tinggi. Ada juga kelengkapan optik adaptif yang menyertainya. Karena kombinasi tersebut, astronom akhirnya bisa mengoreksi efek kabur lantaran atmosfer planet Bumi.

Hasil Pengamatan

Saat melakukan pengamatan, astronom bisa menemukan hasil yang mengejutkan. Alih-alih berlobus dua, ternyata 44 Nysa memiliki tiga lobus. Sebagaimana penjelasan ketua peneliti bernama Kate Minker yang berasal dari Lowell Observatory di kawasan Arizona, Nysa ialah contact trinary dengan tiga komponen yang terhubung satu sama lain atau benda koheren tak teratur serta belum pernah diamati sebelumnya.

Baca Juga: Asteroid 2026 JN4 Jatuh di Indonesia, Ukuran Sebesar Manusia

Karakteristik 44 Nysa

Melalui pengamatan secara lebih mendalam, kalangan astronom juga bisa mengungkap bagaimana karakteristik asteroid 44 Nysa. Sesuai hasil pencitraan memperlihatkan bahwa benda langit ini memiliki lebar berkisar 47 mil atau sekitar 75 km di titik terluasnya. Lalu di sekeliling lingkar asteroid 44 Nysa, ada penemuan dua sekat atau ceruk tajam.

Peneliti meyakini hal tersebut sebagai leher yang menyambungkan tiga lobus 44 Nysa. Karena hal itu, bentuk benda langit ini tak hanya langka, melainkan juga terbilang aneh. Lebih lanjut, astronom juga berhasil mendeteksi adanya bulan kecil yang mengorbitnya.

Jarak minimal orbit bulan ke 44 Nysa sekitar 106 mil atau berkisar 170 km. Bulan ini sendiri memiliki kode nama S/2026 (44) 1. Perihal karakteristiknya, bulan ini memiliki diameter sekitar 0,6 mil atau setara dengan kisaran 1 km.

Masih menyinggung soal karakteristiknya, asteroid 44 Nysa rupanya memiliki kandungan mineral enstatit melimpah. Kandungan tersebut ada di bagian permukaannya. Selain itu, benda langit ini juga bisa memantulkan cahaya.

Teori Terbentuknya 44 Nysa

Berkaitan dengan penemuan 44 Nysa, ternyata ada sejumlah teori yang menyinggung mengenai proses pembentukannya. Teori pertama, peneliti menduga Nysa sebagai contact trinary yakni tiga asteroid terpisah lalu perlahan menyatu karena pengaruh gravitasi. Lalu untuk teori kedua, peneliti memiliki dugaan tersendiri bahwa Nysa pernah bertabrakan dengan asteroid lain namun ukurannya lebih besar di masa silam. Akibat tabrakan tersebut, bentuk fisiknya jadi berubah secara drastis.

Terlepas dari dua teori tersebut, kalangan astronom juga memiliki perkiraan bahwa benda langit tersebut terbentuk di lokasi yang dekat dengan Matahari. Pembentukannya kemungkinan besar berlangsung di awal terbentuknya Tata Surya. Namun lagi-lagi hal tersebut masih sebatas teori semata. Untuk memastikannya, jelas harus melakukan penelitian lanjutan.

Baca Juga: Asteroid 2026 JH2 Melintas Dekat Bumi, Buka Peluang Pengamatan dengan Teleskop Amatir

Penemuan 44 Nysa termasuk objek penelitian yang penting bagi kalangan astronom. Hal ini karena penemuan 44 Nysa tersebut bisa jadi bekal tim astronom untuk mendalami bahan penyusun planet di Tata Surya sekitar 4,5 miliar tahun lalu. Ilmuwan memang perlu melakukan penelitian secara lebih mendalam untuk mengungkap beragam misteri di luar angkasa. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |