Miris! Siswa SMA di Garut Ngaku Kecanduan Obat Terlarang sejak SMP, KPAI Soroti Mudahnya Akses

6 hours ago 4

harapanrakyat.com,- Fenomena kecanduan obat terlarang di kalangan remaja kembali mencuat. Seorang pelajar SMA asal Garut, Jawa Barat, memberikan pengakuan mengejutkan yang menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan, orang tua, serta aparat penegak hukum.

Lemahnya pengawasan dan minimnya sosialisasi mengenai bahaya jangka panjang disinyalir menjadi celah bagi anak-anak untuk terjun ke dunia gelap narkoba.

Beberapa siswa SMA di Garut secara terbuka mengakui status mereka sebagai konsumen aktif obat-obatan terbatas. Salah satunya mulai mengonsumsi pil tersebut sejak duduk di bangku kelas 2 SMP.

Baca Juga: 27 Paket Narkoba Disembunyikan di Dalam Sedotan Air, Polisi Ciduk Pemuda Asal Garut

Alasan Siswa SMA di Garut Kecanduan Obat Terlarang

Salah satu siswa, sebut saja Adam (16), remaja asal Kecamatan Sukawening, mengungkapkan bahwa ia merasa lebih gesit saat beraktivitas setelah mengonsumsi obat-obatan tersebut. Namun, dibalik stamina semu itu, terdapat ketergantungan yang sulit diputus.

“Lebih lincah, enak di badan, ya memang kadang dibarengi kantuk juga. Saya mulai coba sejak kelas 2 SMP,” ungkapnya, Jumat (31/7/2026).

Selain faktor internal, kemudahan dalam mendapatkan barang haram tersebut menjadi pendorong utama Adam kecanduan obat terlarang. Ia menyebutkan, transaksi sering dilakukan secara terang-terangan tanpa adanya pengawasan ketat dari pihak sekolah maupun razia rutin.

“Belinya mudah, banyak akses yang jualan juga terang-terangan. Gak pernah kena razia apa lagi pemeriksaan sama guru,” tambahnya.

Efek Samping dan Lingkaran Setan di Lingkungan Sekolah

Pada awal pemakaian, tubuh Adam sebenarnya sempat menolak dengan menunjukkan gejala fisik yang drastis. Ia mengaku sempat jatuh sakit dan tidak masuk sekolah karena efek pil haram tersebut.

“Pertama kali pakai 1 butir, gak berlangsung lama saya muntah, berkali-kali muntah, pusing. Akhirnya gak sekolah karena pusing,” akunya.

Baca Juga: Bulan Juli Saja Kasus Narkoba di Garut Capai 20 Tersangka, Ada Pengedar Tembakau Sintetis Berkedok Penjual Tahu Bulat

Meski awalnya menderita, Adam kini justru terjebak dalam dosis yang terus meningkat hingga akhirnya kecanduan obat terlarang. Ia juga membeberkan bahwa banyak teman sebaya hingga adik kelasnya yang ikut terjerumus ke dalam lingkaran yang sama.

“Sekarang ingin berhenti sulit, dari 3 butir sehari kalau merasa masih kurang ya tambah 1 butir lagi. Teman banyak juga yang sama pakai, bahkan adik kelas juga banyak,” tuturnya.

Peringatan KPAI: Kerusakan Saraf dan Kecerdasan

Menanggapi fenomena ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Tasikmalaya yang membawahi wilayah Garut, memberikan peringatan serius mengenai dampak kesehatan jangka pendek dan panjang bagi pelajar yang kecanduan obat terlarang.

Ketua KPAID Tasikmalaya, Ato Rinanto menegaskan, zat-zat tersebut secara langsung menyerang sistem saraf anak.

“Bagi anak yang sudah akrab dengan narkoba atau sejenisnya, tentu dalam jangka panjang akan merusak saraf. Dimana saraf ini akan berdampak pada kecerdasan. Jika mengganggu kesehatan itu sudah jelas. Jangka pendeknya biasanya anak ini lebih mudah emosional, temperamen, dan biasanya lebih cenderung pasif jika mulai dijauhkan,” papar Ato.

KPAID menekankan bahwa masalah ini tidak bisa hanya dibebankan kepada pihak sekolah. Peran lingkungan rumah dan ketegasan aparat kepolisian dalam memberantas pengedar sangat krusial. Mengingat anak-anak dapat bertransaksi dengan sangat mudah.

“Ini bukan tentang pengawasan sekolah saja, tapi pola asuh di rumah. Pihak sekolah berfungsi sebagai pendidik yang dapat menertibkan yang melanggar di sekolah. Yang menjadi sorotan tentu kepolisian, mengingat akses untuk mendapatkan obat-obatan terlarang itu anak-anak mudah bertransaksi,” tegas Ato.

Baca Juga: Diberi Upah Rp 100 Ribu Sehari oleh Bandar, Dua Pemuda Asal Garut Nekat Edarkan Psikotropika

Untuk pemulihan, rehabilitasi dianggap sebagai langkah mutlak yang harus didukung oleh bantuan profesional, serta dorongan moral dari keluarga.

“Bagi anak yang sudah kecanduan atau menggunakan obat terlarang berkepanjangan, maka tubuhnya yang membutuhkan, meski dorongan ingin berhenti sangat besar. Rehabilitasi menjadi hal yang mutlak untuk dilakukan. Bukan hanya rehabilitasi, tapi juga harus melibatkan hipnoterapi dan psikolog. Terpenting peran keluarga yang memberikan motivasi kepada anak,” pungkasnya. (Pikpik/R3/HR-Online/Editor: Eva)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |