Lebih dari Sekadar Wisata Bahari, Pantai Gandoriah Kokohkan Diri sebagai Ikon Budaya dan Konservasi Sumatera Barat

11 hours ago 7

Kota Pariaman semakin mengukuhkan posisinya sebagai destinasi unggulan di Sumatera Barat melalui pesona Pantai Gandoriah yang memadukan tradisi budaya megah dan keindahan alam pesisir.

Pada pertengahan tahun 2026, kawasan ini telah melaksanakan perhelatan tahunan Pesona Hoyak Tabuik Piama yang disambut ribuan wisatawan. Acara ini memberikan pengalaman edukasi serta sejarah yang mendalam bagi para pengunjung.

Pantai Gandoriah: Pusat Tradisi Hoyak Tabuik dan Edukasi Sejarah

Baca Juga: Festival Fulan Fehan IV 2026: Pesona Tari Likurai dan Harmoni Persahabatan di Batas Negeri

Salah satu magnet utama pariwisata daerah ini adalah Pesona Hoyak Tabuik Piaman. Pada tahun ini puncak acaranya berlangsung Minggu, 28 Juni 2026 lalu.

Tradisi yang masuk dalam agenda nasional Karisma Event Nusantara (KEN) ini mencapai puncaknya pada pukul 18.00 WIB melalui prosesi ikonik “Tabuik Dibuang ka Lauik”.

Pemerintah setempat terus mengimbau pengunjung untuk menjaga kebersihan selama acara yang turut menggerakkan ekonomi UMKM lokal ini berlangsung.

Sebagai primadona wisata di pusat kota, Pantai Gandoriah menawarkan aksesibilitas luar biasa. Karena lokasinya tepat di seberang Stasiun Pariaman dengan harga tiket masuk yang sangat terjangkau, yakni Rp3.000 per orang.

Baca Juga: Jatiluwih Festival VII 2026: Komitmen Melestarikan Warisan Budaya Dunia Melalui Pariwisata Berkelanjutan

Di sini, wisatawan dapat menikmati hamparan pasir putih kecokelatan, panorama enam gugusan pulau kecil. Hingga wisata sejarah di Monumen Perjuangan Angkatan Laut yang memamerkan Tank Amfibi Uni Soviet sebagai pengingat perjuangan melawan Belanda.

Wisata Kuliner dan Eduksai

Aktivitas populer lainnya meliputi wisata kuliner mencicipi Sala Lauak dan Nasi Sek. Serta olahraga air seperti menyeberang ke Pulau Angso Duo dengan biaya sekitar Rp 40.000.

Nama pantai ini sendiri diambil dari legenda cinta tragis Puti Gandoriah dan Anggun Nan Toga. Legenda tersebut menjadi sebuah kisah yang menginspirasi bagi identitas budaya dan sejarah lokal di kota tersebut.

Selain wisata pantai, Pariaman juga menawarkan edukasi di UPT Konservasi Penyu, Desa Apar, yang telah melepasliarkan lebih dari 30.000 tukik sejak tahun 2009.

Akses menuju berbagai destinasi ini pun semakin mudah dengan adanya kereta api wisata dari Kota Padang yang berhenti tepat di jantung kawasan wisata.

Baca Juga: Menjelajah Keajaiban Nusantara: Deretan Desa Paling Unik di Indonesia dengan Tradisi Paling Tak Lazim

Dengan segala perpaduan potensi budaya, sejarah, dan fasilitas pendukung yang lengkap, Pantai Gandoriah tetap menjadi ikon yang menjadikan Kota Pariaman lebih dari sekadar destinasi liburan biasa.

Kota ini telah berhasil membuktikan diri sebagai pusat warisan budaya dan konservasi alam yang berkembang secara berkelanjutan bagi wisatawan mancanegara maupun akademisi. (R3/HR-Online/Editor: Eva)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |