Penulis sains sekaligus fisikawan bernama Dr Michael Guillen menyebut tahu batas alam semesta teramati. Menurut penjelasannya, tepi alam semesta teramati ada di jarak berkisar 46 miliar tahun cahaya dari planet Bumi. Batas tersebut pun jadi konsep metafora lokasi Tuhan di kosmos.
Baca Juga: Siklus Cuaca di Titan, Libatkan Metana dan Etana di Permukaannya
Klaim tersebut pun membuat kehebohan di dunia astronomi. Tak mengherankan karena klaim tersebut termasuk pernyataan kontroversial yang menggegerkan di awal bulan Agustus 2026 ini. Berikut uraian selengkapnya.
Dr Michael Guillen ialah mantan fisikawan Harvard. Ia menulis artikel di Fox News yang menjelaskan secara gamblang tentang klaim menemukan lokasi Tuhan di alam semesta. Secara teoritis, tepi alam semesta teramati tadi setara dengan 439 miliar triliun km atau 273 miliar triliun mil dari planet Bumi.
Galaksi dengan jarak tersebut akan bergerak dalam kecepatan 186.000 mil per detik. Tak lain berarti kecepatan cahayanya. Jarak di ruang angkasa ini terkenal dengan istilah cakrawala kosmik atau batas observasi alam semesta.
Mengenal Istilah Cakrawala Kosmik
Menurut penjelasannya, cakrawala kosmik ialah batas jarak tempat galaksi bergerak menjauh dalam kecepatan yang sesuai dengan kecepatan cahaya di alam semesta teramati. Hal ini akibat dari pemuaian atau pengembangan ruang angkasa karena ruang yang ada di antaranya mengembang secara lebih cepat dari kemampuan cahaya untuk capai Bumi.
Berkaitan dengan hal itu, pada dasarnya memang kita hanya bisa melihat cahaya yang sudah mencapai posisinya. Dalam artian, ada batas sejauh mana area alam semesta yang bisa dilihat. Hal tersebut terkenal dengan alam semesta teramati lantaran cahayanya memang belum sepenuhnya sampai ke kita.
Baca Juga: Ilmuwan Ungkap Misteri Hilangnya Perak Matahari, Kok Bisa?
Dalam klaim ini, fisikawan tadi turut mengaitkannya dengan konsep di ajaran Alkitab tentang surga. Dalam ajaran tersebut, surga disebut tak bisa diakses oleh manusia semasa hidup. Lalu dihuni oleh entitas abadi tanpa ada wujud material. Karena konsep tersebut, fisikawan ini menilai cakrawala kosmik menggambarkan wilayah di luar jangkauan.
Klaim Dr Michael Guillen dalam Pandangan Ilmiah
Berbicara mengenai klaim Dr Michael Guillen tadi, ternyata jadi sorotan dalam bidang ilmiah. Hal ini karena klaim fisikawan tersebut dinilai sangat spekulatif. Bahkan tak mencerminkan pandangan ilmiah sama sekali.
Lebih lanjut, di dalam kosmologi modern menyebut bahwa cakramala kosmik jadi batas observasi alam semesta teramati berdasar posisi pengamat. Batas observasinya tidak dipengaruhi oleh lokasi fisik tetap di dalam alam semesta. Bahkan model fisika sekarang juga tak mendukung anggapan bahwa waktunya berhenti di cakrawala kosmik.
Bukan hanya itu saja, cahaya yang berasal dari sisi dalam cakrawala kosmik juga membutuhkan waktu sangat lama agar bisa sampai ke Bumi. Hal ini akan mengalami proses pergeseran merah karena pengembangan alam semesta. Maka dari itu, argumentasi atau klaim dari Dr Michael Guillen dinilai keliru.
Terlebih lagi fisikawan tersebut menyebut batas observasi astronomi jadi lokasi fisik alam semesta teramati. Tak hanya itu, tidak ada dasar ilmiah yang mampu menjelaskan bagaimana alasan entitas ilahi ada di jarak tersebut. Walaupun klaimnya menggunakan Alkitab, namun dasar kosmologi untuk dukung idenya cenderung tak tepat.
Fakta Menarik Alam Semesta Teramati
Alam semesta teramati itu sendiri memiliki berbagai fakta menarik yang penting untuk diketahui. Adapun beberapa fakta menarik tentangnya ialah sebagai berikut.
Jarak Pandang Terjauh
Salah satu faktanya berkaitan dengan jarak pandang terjauh. Ternyata jarak pandang terjauhnya sekitar 46 sampai 46,5 miliar tahun cahaya ke seluruh penjuru arah dari planet Bumi.
Bukan Batas Fisik
Alam semesta teramati ini ternyata bukan batas fisik. Batas tersebut ada lantaran keterbatasan waktu dari perjalanan cahaya. Maka dari itu, alam semesta teramati ini bukan tanda ujung fisik dari alam semesta itu sendiri.
Baca Juga: Menguak Fakta Penemuan Quasar Kuno Paling Terang di Alam Semesta
Batas alam semesta teramati sesuai dengan klaim Dr Michael Guillen dinilai keliru di dunia astronomi. Terlebih lagi untuk penilaiannya yang menyebut batas alam semesta teramati sebagai lokasi Tuhan. Pada dasarnya, alam semesta luas dan astronom belum bisa mengamatinya secara menyeluruh karena keterbatasan waktu pergerakan cahaya. Oleh karena itu, perlu penelitian secara lebih mendalam untuk semakin mengenal alam semesta. (R10/HR-Online)

1 day ago
25
















































