harapanrakyat.com,- Pemprov Jawa Barat kini tengah berupaya mengantisipasi potensi krisis pangan, akibat ancaman kemarau panjang akibat fenomena El Nino Godzilla. Pemprov Jabar melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) memperketat pengawasan stok komoditas pokok. Pemantauan ini terutama beras dan produk hortikultura, untuk mencegah lonjakan harga di pasaran.
Baca Juga: Hadapi Ancaman El Nino, Pemkot Cimahi Pastikan Stok Cadangan Beras Aman
Kepala Disperindag Jabar, Nining Yuliastiani mengatakan, musim kemarau yang datang lebih awal serta berlangsung lebih lama, berpotensi mengganggu siklus panen padi dan hasil pertanian lokal. Meski begitu, hasil pemetaan menunjukkan ketersediaan pasokan beras di Jawa Barat masih berada pada tingkat aman hingga penghujung tahun.
“Hal pertama yang sangat perlu kami waspadai berkaitan dengan kebutuhan pokok utama, yaitu beras. Situasi kemarau dan ada El Nino seperti ini, membuat produksi beras berpotensi tidak seoptimal tahun sebelumnya,” kata Nining, Rabu (12/8/2026).
Nining berujar, pihaknya menaruh perhatian khusus pada kelancaran rantai pasok guna mengantisipasi penurunan volume produksi, terutama beras.
Disperindag Jabar melakukan pengawasan langsung ke lapangan, agar pedagang menaati regulasi Harga Eceran Tertinggi (HET) sesuai regulasi. “Kami memastikan stok pangan aman sampai akhir tahun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Baca Juga: Perkuat Ketahanan Pangan, Pemprov Jabar Dorong Peternak Bandung Barat Produksi Bibit Sendiri
Disperindag Jabar Perketat Pengawasan untuk Jaga Stabilitas Harga dan Pasokan Komoditas Utama
Selain beras, Disperindag memproyeksikan pasokan komoditas hortikultura lokal, seperti cabai merah dan bawang merah masih mencukupi kebutuhan pasar.
Ia memastikan, menerapkan pengawasan ketat untuk mencegah spekulasi harga, akibat penurunan pasokan secara mendadak saat puncak musim kering. “Jadi kami melakukan pengawasan mengenai ketersediaan barang yang berpotensi menurun,” ucapnya.
Sementara itu, terkait fluktuasi harga komoditas impor seperti bawang putih, Nining menilai pergerakan harga di tingkat konsumen sangat dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.
Pemerintah daerah hanya berfokus menjaga kelancaran distribusi komoditas lokal, agar tidak memicu gejolak harga yang membebani masyarakat.
Sinergi antarinstansi juga terus diperkuat. Hal itu untuk memastikan pasokan komoditas pangan dari daerah penghasil tetap terdistribusi secara merata ke seluruh wilayah Jawa Barat.
Baca Juga: Mengapa Fenomena El Nino Turut Berdampak Mahalnya Beras? Ini Penjelasan DTPH Jawa Barat
“Kenaikan harga bawang putih lebih disebabkan oleh penurunan nilai tukar rupiah. Tapi secara keseluruhan pasokan produk hortikultura terus kami kawal agar tetap terkendali,” tuturnya. (Reza/R5/HR-Online/Editor: Adi Karyanto)

12 hours ago
13
















































