harapanrakyat.com,- Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) lalu, meninggalkan dampak cukup serius bagi masyarakat di sejumlah daerah. Di Kabupaten Manggarai Barat, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus menyisir wilayah terdampak. Penyisiran ini untuk memastikan kondisi warga. Selain itu, BNPB sekaligus memetakan kebutuhan bantuan kemanusiaan.
Baca Juga: Ancaman Gempa dan Tsunami Mengintai, BNPB Usulkan Sabuk Hijau Mangrove di Pangandaran
Langkah ini dipimpin langsung oleh Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Abdul Muhari, saat melakukan asesmen lapangan di Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, pada Rabu (19/8). Sasaran utama peninjauan difokuskan pada dua titik, yakni Dusun Coal di Desa Coal serta Dusun Dahang di Desa Pangga. Di lokasi ini, pemandangan pilu terlihat jelas. Hal ini terjadi karena warga terpaksa mendirikan tenda darurat secara mandiri maupun terpusat. Mereka melakukannya akibat trauma psikologis dan kekhawatiran atas potensi gempa susulan.
Berdasarkan data asesmen mutakhir yang dirilis BNPB, amukan gempa bumi NTT bermagnitudo besar tersebut meninggalkan kerusakan fisik yang cukup masif di wilayah pedesaan Manggarai Barat. Tercatat sebanyak 148 unit rumah warga mengalami kerusakan. Rinciannya, 101 unit mengalami rusak berat, 12 unit mengalami rusak sedang, dan 35 unit mengalami rusak ringan.
Selain kerugian material yang ditaksir cukup besar, bencana ini juga merenggut nyawa 75 orang. Sedangkan untuk yang mengalami luka-luka tercatat sekitar 907 korban.
Gelombang pengungsian pun tidak terhindarkan. Di Desa Coal saja, jumlah warga yang mengungsi tercatat membludak hingga mencapai 1.108 jiwa. Sementara itu, di Desa Pangga, lebih dari 20 keluarga memilih mendirikan tenda pengungsian secara mandiri di sekitar kediaman mereka.
Tantangan Akses dan Penanganan Psikologis Pasca Gempa Bumi NTT
Dalam dialog langsung bersama para pengungsi, Deputi Abdul Muhari mendapati fakta, bahwa beberapa kantong pengungsian mandiri sempat mengalami kendala pasokan logistik pada hari-hari awal pascagempa. Hal itu akibat terputusnya jalur komunikasi dan distribusi.
“Dari laporan Pak Camat tadi, sudah ada bantuan pangan, dan tentu saja ini akan terus kita tindak lanjuti,” katanya di lokasi pengungsian, Rabu (19/8/2026).
Ia tidak memungkiri, bahwa letak geografis dan medan yang berat menjadi tantangan tersendiri bagi tim satgas. Jarak tempuh dari Labuan Bajo menuju lokasi bencana membutuhkan waktu sekitar 3,5 jam. Selain itu, akses jalan cukup ekstrem dan sulit dilalui kendaraan berat.
Kendati demikian, BNPB memastikan bahwa mandat Bantuan Presiden (Banpres) harus tersalurkan secara tepat sasaran. Bantuan untuk korban gempa bumi NTT ini, mencakup kebutuhan dasar permakanan maupun non-permakanan bagi seluruh warga terdampak.
Lebih lanjut, Abdul Muhari menyoroti fenomena pengungsian mandiri yang tidak hanya disebabkan oleh rumah yang hancur lebur, tetapi juga dipicu oleh faktor psikologis. Trauma mendalam serta rentetan gempa susulan yang terus terjadi membuat warga memilih bertahan di luar ruangan.
“Ini tidak semuanya karena rumahnya rusak. Namun ada faktor psikologis trauma dan guncangan gempa susulan yang masih terus berjalan sampai sekarang,” ungkapnya.
Menghadapi situasi darurat ini, BNPB bersama Pos Komando yang dikomandoi oleh pemerintah daerah setempat terus mengintensifkan pendataan bangunan rusak. Sekaligus juga, memprioritaskan perlindungan bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, ibu hamil, dan lansia.
Baca Juga: Dapur Rumah Warga Kota Banjar Ambruk, Diduga Akibat Gempa Pangandaran
Hingga saat ini, BNPB dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus mendistribusikan logistik darurat secara maraton. Sementara untuk mempercepat mata rantai pasokan di wilayah terdampak gempa bumi di NTT, pos pendukung logistik utama telah dipusatkan di dua titik strategis, yakni Labuan Bajo dan Maumere. (Adi/R5/HR-Online)

8 hours ago
10

















































