harapanrakyat.com,- BMKG memprediksi puncak musim kemarau akibat El Nino sangat kuat terjadi pada September-Oktober 2026. Namun, Stasiun Geofisika Kelas I Bandung menyebut rencana hujan buatan di Jawa Barat belum memungkinkan dilakukan saat ini.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi, menjelaskan syarat utama rekayasa cuaca atau hujan buatan adanya awan di wilayah sasaran. Saat ini, potensi awan pembawa hujan masih sangat minim, di bawah 30 persen.
“Kami harus menunggu awan terkumpul dulu baru bisa melaksanakan modifikasi cuaca (hujan buatan). Kalau belum cukup, belum bisa dilakukan,” ujarnya di Bandung, Jumat (28/8/2026).
Baca Juga: Warga Pangandaran Diminta Waspada Kebakaran Hutan Saat Musim Kemarau
Hujan Buatan Belum Dapat Dilakukan, Tapi Hujan Sesekali Bisa Turun
Intensitas El Nino tahun ini dikategorikan sangat kuat, setara dengan kejadian pada 1997-1998. Fase terkering diprediksi mencapai puncaknya dalam satu hingga dua bulan ke depan. Meski demikian, Suaidi menegaskan kemarau bukan berarti panas terus-menerus tanpa setetes hujan pun.
“Wilayah Bandung tetap masuk Zona Musim yang jelas, sehingga hujan lokal sesekali turun masih terbilang wajar,” ujarnya.
Baca Juga: Dampak Kemarau di Ciamis, Krisis Air Bersih Meluas ke 15 Kecamatan
Beberapa dinamika atmosfer justru masih mendukung pertumbuhan awan konvektif secara lokal di sebagian kecil daerah Jawa Barat pada 24-30 Agustus 2026. Faktornya antara lain suhu permukaan laut yang relatif hangat, kelembapan udara 30-95 persen di lapisan atmosfer atas, serta labilitas atmosfer yang bervariasi dari ringan hingga kuat.
Suhu udara di Bandung dan sekitarnya pun terasa lebih hangat dari biasanya. Sepanjang 1–26 Agustus 2026, suhu maksimal mencapai 32,6°C dan terendah 18°C. Angka ini lebih tinggi dibandingkan bulan Juli, saat rata-rata suhu berada di 23,6°C dengan puncak 31,8°C.
“Hujan tetap bisa turun secara lokal, tergantung massa air yang dibawa angin dari Samudra Hindia,” jelas Suaidi.
Baca Juga: Musim Kemarau Melanda Ciamis, Disnakkan Imbau Pembudidaya Ikan Waspadai Penyakit Aeromonas
Dampak kekeringan kini mulai terasa nyata di berbagai wilayah Jawa Barat. Kabupaten Bogor, Garut, Sukabumi, dan Bekasi menjadi daerah yang paling terdampak. Di Kabupaten Bogor saja, distribusi bantuan air bersih sudah mencapai 7-9 juta liter untuk memenuhi kebutuhan warga yang mulai kesulitan mendapat pasokan air.
Melihat kondisi yang kian ekstrem, Suaidi mengimbau setiap pemda memprioritaskan ketersediaan cadangan air bersih. Selain itu, ia memberikan peringatan tegas kepada masyarakat agar tidak membakar lahan, terutama di area pertanian. Praktik itu hanya akan memperburuk kualitas udara dan mempertebal kabut asap.
“Beberapa waktu lalu kami temukan jejak pembakaran lahan di sekitar Tol Cisumdawu. Mohon hal itu tidak diulang lagi,” pesannya. (Eri/R9/HR-Online/Editor-Dadang)

4 hours ago
6

















































