Fenomena Snow Moon 2026, Bulan Purnama Terang di Tengah Salju

3 days ago 16

Fenomena Snow Moon menjadi peristiwa astronomi penting yang menghiasi langit malam pada awal Februari 2026. Bulan purnama kedua tahun tersebut akan muncul pada Minggu malam, 1 Februari 2026, dan menarik perhatian. Sebab, fenomena ini bertepatan dengan badai musim dingin Fern di Amerika Serikat. 

Baca Juga: Fenomena Wolf Moon Terjadi di Awal Tahun 2026, Ini Jadwalnya

Fenomena Snow Moon Terlihat di Rasi Leo Bersama Beehive Cluster

Snow Moon adalah istilah untuk bulan purnama yang terjadi pada Februari. Secara astronomi, fase purnama terjadi ketika elongasi Bulan mencapai 180 derajat terhadap Matahari. Siklus ini berlangsung setiap 29,53 hari atau terkenal sebagai bulan sinodik.

Dalam satu tahun kalender, Bulan mengalami 12 hingga 13 fase purnama. Masing-masing fase diberi nama berdasarkan pengamatan musim oleh masyarakat kuno. Snow Moon termasuk penamaan tradisional yang masih digunakan hingga saat ini.

Waktu Puncak dan Visibilitas Snow Moon 2026

Puncak iluminasi Snow Moon 2026 terjadi pada pukul 17.09 Eastern Time pada 1 Februari 2026. The Old Farmer’s Almanac mencatat bahwa pada waktu tersebut Bulan masih berada di bawah cakrawala bagi sebagian besar wilayah belahan Bumi Utara. Pengamatan optimal dapat dilakukan setelah pukul 18.00 waktu setempat.

Bulan akan terbit di ufuk timur dan bergerak melintasi langit hingga terbenam saat matahari terbit. Posisi Bulan berada di rasi Leo dengan jarak sekitar 371.000 km dari Bumi. Fenomena Snow Moon ini tidak termasuk kategori supermoon maupun micromoon.

Baca Juga: Manfaat Gerhana Bulan Bagi Lingkungan dan Manusia

Kondisi Salju dan Tingkat Kecerahan Malam

Wilayah Midwest dan Northeast Amerika Serikat mengalami lapisan salju tebal akibat badai musim dingin Fern pada akhir Januari 2026. Suhunya kemungkinan tetap berada di bawah 0 derajat Celsius selama beberapa pekan. Salju tersebut kemungkinan besar masih bertahan saat bulan purnama terjadi.

NASA menjelaskan bahwa salju memiliki nilai albedo lebih dari 0,9. Artinya, lebih dari 90% cahaya yang diterima akan dipantulkan kembali. Fenomena ini menciptakan salah satu malam paling terang sepanjang 2026.

Albedo adalah ukuran reflektivitas suatu permukaan terhadap radiasi elektromagnetik. Dalam jurnal Journal of Geophysical Research tertera bahwa permukaan bersalju memiliki albedo tertinggi di alam. Cahaya Bulan yang merupakan pantulan cahaya Matahari akan kembali dipantulkan oleh salju ke segala arah.

Asal Usul Nama Snow Moon Secara Historis

Nama Snow Moon berasal dari catatan The Old Farmer’s Almanac sejak abad ke-18. Pada masa sebelum Revolusi Amerika, Februari terkenal sebagai bulan dengan curah salju tertinggi. Komunitas agraris menggunakan penamaan ini untuk menandai kondisi alam ekstrem.

Data modern dari The Weather Channel menunjukkan Januari kini lebih bersalju. Namun, Pantai Timur Amerika Serikat masih menerima akumulasi salju besar pada Februari. Dari konteks sejarah inilah fenomena Snow Moon mempertahankan namanya.

Dampak Gravitasi Snow Moon terhadap Bumi

Snow Moon memberikan dampak gravitasi yang sama seperti bulan purnama lainnya. NASA menjelaskan bahwa gaya tarik Bulan dan Matahari sejajar saat purnama. Hal itu memicu spring tide atau pasang maksimum. Ketinggian pasang dapat meningkat signifikan di wilayah pesisir.

Fenomena ini berpotensi meningkatkan risiko banjir rob. Namun, tidak ada bukti ilmiah bahwa bulan purnama menyebabkan bencana alam atau perubahan perilaku manusia. Ilmuwan tetap memahami Snow Moon sebagai peristiwa alam yang stabil dan terprediksi.

Posisi Snow Moon dengan Objek Langit Lain

Snow Moon 2026 akan tampak berdekatan dengan Beehive Cluster atau Messier 44. Gugus bintang terbuka ini berjarak sekitar 577 tahun cahaya dari Tata Surya. Live Science menyebutkan lebih dari 100 bintang dapat kita amati menggunakan teropong kecil.

Beehive Cluster berada di antara Pollux di rasi Gemini dan Regulus di rasi Leo. Regulus akan terlihat jelas sekitar 1 jam setelah Bulan terbit. Fenomena Snow Moon ini memberikan pengalaman observasi langit yang langka.

Okultasi Regulus pada Awal Februari 2026

Pada 2 Februari 2026, sebagian wilayah Amerika Utara dapat menyaksikan okultasi Regulus oleh Bulan. Peristiwa ini terjadi ketika Bulan melintas tepat di depan bintang tersebut. Fenomena serupa baru akan terulang pada akhir 2030-an.

Okultasi menjadi objek kajian penting dalam astronomi posisi. Data dari peristiwa ini berguna untuk mempelajari diameter sudut Bulan dan posisi bintang. Snow Moon juga menambah nilai ilmiah melalui peristiwa ini.

Nama Lain Snow Moon dalam Budaya Tradisional

Selain Snow Moon, purnama Februari populer dengan nama Hungry Moon. Nama ini mencerminkan sulitnya sumber makanan pada puncak musim dingin. Beberapa komunitas juga menyebutnya Storm Moon atau Candles Moon.

Suku asli Amerika memiliki sebutan lain seperti Eagle Moon, Bear Moon, dan Goose Moon. Nama-nama tersebut merefleksikan perubahan perilaku hewan dan alam. Snow Moon menunjukkan hubungan erat antara astronomi dan budaya.

Fenomena Astronomi Lain pada Februari 2026

Februari 2026 juga akan ditutup dengan Bulan Baru pada 17 Februari 2026. Fase ini memicu terjadinya gerhana Matahari cincin api atau Ring of Fire. Dalam peristiwa ini, Bulan menutupi bagian tengah Matahari dan menyisakan lingkaran cahaya.

Baca Juga: Fenomena Langit Sepanjang April 2022, Amati Pink Moon Menjelang Sahur

Gerhana tersebut hanya dapat diamati dari Antarktika. Kombinasi fenomena Snow Moon, gugus bintang ikonik, dan gerhana langka menjadikan Februari 2026 periode istimewa bagi pecinta astronomi. Fenomena Snow Moon menjadi pembuka rangkaian astronomi yang penting bagi pengamat langit. Sungguh unik bukan, fenomena langit tersebut? Sudah siap menyaksikan Snow Moon? (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |