Sindiran Sarwo Edhie ke DN Aidit dalam Pusaran Peristiwa Supersemar 1966

7 hours ago 9

Meletusnya konflik G30S/PKI melahirkan banyak cerita yang terus diperdebatkan, salah satunya sindiran Sarwo Edhie ke DN Aidit. Sarwo Edhie yang saat itu menjabat sebagai komandan RPKAD mendadak mengirimkan sindiran menohok ke DN Aidit. Di tengah gelombang aksi dan ketegangan di lingkup pemerintah, membuat pernyataannya terkait Aidit langsung jadi sorotan.

Baca Juga: Kisah Prajurit Kostrad Bentak DN Aidit Agar Keluar dari Persembunyian

Apalagi ucapan Sarwo Edhie tidak sekedar komentar spontan, namun juga terbaca sebagai refleksi situasi politik yang sedang memanas. Tepatnya menjelang kelahiran Supersemar. Sindirannya kemudian berkembang menjadi bagian dari narasi besar. Seolah memperlihatkan bagaimana militer, mahasiswa dan elite politik saling berkelindan dalam krisis 1966.

Fakta di Balik Sindiran Sarwo Edhie ke DN Aidit

Dalam catatan sejarah, kelahiran Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) tidak lepas dari peran Sarwo Edhie Wibowo. Mertua SBY itu dahulu populer sebagai tokoh militer muda dengan pengaruh sangat besar. Setelah memimpin operasi RPKAD dalam penumpasan Gerakan 30 September 1965, namanya semakin terkenal. Terutama di kalangan mahasiswa yang tergabung dalam organisasi KAMI.

Keberhasilannya saat operasi di Jawa Tengah membuat posisi Sarwo Edhie kian kuat di mata publik maupun mahasiswa. Hingga pada tanggal 10 Januari 1966, ia menerima undangan untuk hadir di sebuah pertemuan besar besutan KAMI. Tepatnya di halaman Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Dalam forum tersebut, Sarwo Edhie tidak hanya hadir sebagai tamu, melainkan juga figur militer penting. Banyak mahasiswa menganggapnya mampu mewakili kekuatan yang sedang naik daun di tengah gejolak politik nasional. Kala itu, KAMI berharap Sarwo Edhie dapat mempermudah tujuan mahasiswa menyelesaikan kekacauan politik.

Ungkapan Terima Kasih Bernada Sindiran

Sebelum acara berlangsung, mahasiswa KAMI memperkenalkan konsep awal Tritura. Tritura ini berisi tiga tuntutan utama. Mulai dari pembubaran PKI secara menyeluruh sampai ke akar, perombakan kabinet dan penurunan harga kebutuhan pokok. Mengingat pada masanya krisis yang terjadi begitu memprihatinkan.

Dalam kesempatan itu, Sarwo Edhie menegaskan dukungannya terhadap semangat mahasiswa. Ia menyebut bahwa perjuangan harus mendapat dasar keyakinan tegas. Karena tanpa itu gerakan akan mudah melemah di tengah jalan. Dalam suasana yang emosional dan penuh tekanan politik, ia juga melontarkan pernyataan yang kemudian masyarakat anggap kontroversial.

Sarwo Edhie mengucapkan sindiran berupa ucapan “terima kasih” ke DN Aidit. Menurutnya situasi yang terjadi akibat G30S telah menyatukan kembali mahasiswa sekaligus memperkuat gelombang perlawanan. Pernyataannya membuat nama Aidit kembali menjadi simbol perdebatan politik.

“Biar seribu Aidit, kalau Indonesia subur dengan Pancasila, mereka tidak mungkin melakukan kup. Apalagi satu Aidit. Dan kalian tidak perlu merisaukannya. Biarkanlah Aidit beristirahat di tempat lain,” katanya seperti yang tertulis di buku Angkatan 66 (1981).

Penyerbuan di Berbagai Tempat

Tak berhenti dengan sindiran, setelah aksi di FKUI, gelombang demonstrasi mahasiswa tidak mereda. Malah justru semakin meluas ke berbagai titik strategis di Jakarta. Massa KAMI bergerak mendatangi sejumlah gedung pemerintahan dan menyuarakan tuntutan Tritura secara langsung serta tegas.

Baca Juga: Menguak Perbedaan Tan Malaka dan DN Aidit dalam Membangun Gerakan

Aksi juga mengarah ke pejabat tinggi negara, termasuk saat mereka menyatakan sikap di hadapan Waperdam Chaerul Saleh. Tidak lama kemudian, mahasiswa turut mendatangi Istana Bogor saat berlangsung sidang kabinet. Pergerakan ini berlangsung berkat dukungan logistik dari beberapa unsur militer.

Situasi semakin tegang ketika demonstrasi pada Februari 1966 berujung bentrokan. Aksi tersebut menimbulkan banyak korban jiwa dari masyarakat sipil. Hal yang kemudian menjadi titik balik meningkatnya eskalasi politik di ibu kota. Ini sekaligus menorehkan sejarah kelam pasca penumpasan PKI dan wafatnya DN Aidit.

Demo yang Kian Masif

Ketegangan politik terus meningkat seiring membesarnya aksi mahasiswa dan keterlibatan unsur militer dalam dinamika lapangan. Sarwo Edhie dan Kemal Idris ikut memberikan dorongan moral ke mahasiswa yang terus menekan pemerintah untuk merespons tuntutan Tritura. Dalam situasi yang semakin kompleks, muncul rencana operasi terhadap sejumlah pejabat, termasuk Subandrio.

Tentu saja operasi ini memicu pengerahan pasukan tanpa identitas resmi di sekitar Istana. Beruntung aksi batal setelah adanya perubahan pemerintah di tingkat komando. Di tengah situasi yang tidak stabil, Presiden Soekarno meninggalkan sidang kabinet pada 11 Maret 1966. Hasilnya Supersemar lahir.

Surat perintah tersebut membuka jalan bagi Soeharto untuk mengambil langkah-langkah politik lanjutan. Termasuk pembubaran PKI sampai ke akarnya. Sementara itu, Sarwo Edhie yang sempat ungkap sindiran ke DN Aidit meresponsnya dengan pawai kekuatan. Aksinya kemudian berhenti pasca tuai respon negatif dari berbagai pihak.

Peristiwa Supersemar 1966 bukanlah kejadian tunggal, melainkan rangkaian panjang dari ketegangan politik, aksi massa dan manuver kekuasaan. Dalam pusaran itu, nama Sarwo Edhie muncul sebagai tokoh kontroversial, termasuk akibat sindiran ke DN Aidit. Meski demikian, peristiwa ini tetap menyisakan banyak versi dan interpretasi.

Baca Juga: Beberapa Permintaan DN Aidit Sebelum Dieksekusi Mati di Sumur Tua Jawa Tengah

Secara keseluruhan pemahaman fakta sindiran Sarwo Edhie ke DN Aidit haruslah mendalam. Inti dari sindiran Sarwo Edhie ke DN Aidit dapat kita pahami sebagai ungkapan yang menyoroti besarnya dampak peristiwa politik 1965. Dalam konteks itu, ucapan Sarwo Edhie menggambarkan pandangan gejolak yang terjadi telah mempercepat konsolidasi berbagai elemen masyarakat. Khususnya terhadap perubahan situasi nasional dan merespons krisis yang berlangsung menuju lahirnya momentum Supersemar. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |