harapanrakyat.com,- Munculnya kritik terhadap berbagai narasi budaya Sunda yang belakangan digaungkan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM, ditegaskan bukan berarti bentuk kebencian terhadap budaya Sunda. Hal itu disampaikan pegiat budaya asal Ciamis, Ricky Andriawan Mardjadinata, menanggapi polemik menguatnya simbol dan narasi Pajajaran di ruang publik Jawa Barat.
Menurut Ricky, banyak masyarakat salah paham ketika kritik terhadap kebijakan atau kegiatan budaya langsung dianggap sebagai sikap anti-Sunda. Padahal, kritik yang muncul justru lahir karena adanya kepedulian terhadap sejarah dan kebudayaan Sunda itu sendiri.
“Harus dibedakan antara mencintai budaya Sunda dengan menyetujui semua narasi yang dibangun penguasa. Kritik itu bukan anti-Sunda. Yang dikritik itu kebijakan, kegiatan, dan konstruksi sejarah yang diproduksi gubernur,” ujarnya.
Belakangan, istilah ‘Pajajaranisme’ mulai ramai dibicarakan setelah simbol-simbol Pajajaran semakin sering dimunculkan dalam berbagai agenda budaya di Jawa Barat. Mulai dari penggunaan atribut kerajaan Sunda, napak tilas sejarah, hingga penguatan simbol Makuta Binokasih.
Bagi sebagian masyarakat, langkah tersebut dianggap positif karena berhasil membangkitkan kembali minat generasi muda terhadap budaya Sunda. Namun di sisi lain, sejumlah budayawan mulai khawatir ketika sejarah Sunda seolah hanya dipusatkan pada satu narasi besar bernama Pajajaran.
Baca Juga: Budayawan Ciamis Minta Milangkala Tatar Sunda Mendatang Ajak Stakeholder Budaya Jabar Musyawarah
Kritik terhadap KDM, Pegiat Budaya Ciamis Ingatkan Tatar Sunda Bukan hanya Satu Kerajaan
Ricky menilai sejarah Tatar Sunda jauh lebih luas dan tidak bisa disederhanakan hanya pada satu kerajaan atau satu tafsir budaya saja. Menurutnya, Jawa Barat memiliki banyak warisan peradaban lain seperti Galuh, Sumedang Larang, Talaga, Cirebon, Banten hingga komunitas adat Baduy dan Kasepuhan.
“Kalau simbol Pajajaran terus didorong tanpa ruang dialog yang sehat, lama-lama bisa muncul kesan seolah-olah hanya ada satu versi Sunda yang paling benar,” katanya.
Ia juga menyoroti mulai menyempitnya ruang diskusi di media sosial. Kritik terhadap kebijakan budaya sering kali dibalas dengan serangan personal hingga pelabelan anti-Sunda oleh pendukung fanatik.
“Yang berbahaya itu ketika tokoh mulai dikultuskan. Semua kritik dianggap serangan terhadap Sunda. Padahal budaya Sunda sejak dulu dibangun lewat musyawarah, silih asih, silih asah, bukan lewat fanatisme,” tambahnya.
Ricky mengingatkan, sejarah dan budaya seharusnya tidak terlalu dekat dengan kekuasaan. Sebab ketika kekuasaan terlalu dominan dalam membentuk narasi sejarah, selalu ada risiko lahirnya tafsir tunggal yang dipaksakan kepada masyarakat.
Baca Juga: Dedi Mulyadi Tegaskan Milangkala Tatar Sunda sebagai Agenda Rutin Tahunan
Menurutnya, ruang kritik dan perdebatan ilmiah justru penting agar budaya Sunda tetap hidup, sehat, dan tidak kehilangan keberagaman tafsir yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat Sunda sendiri. (R7/HR-Online/Editor-Ndu)

21 hours ago
19

















































